Wednesday, 21 December 2016

Time Travel, Dunia Paralel dan Paradox (Part 4)


Paradoks adalah suatu situasi yang timbul dari sejumlah premis (apa yang dianggap benar sebagai landasan kesimpulan kemudian; dasar pemikiran; alasan; (2) asumsi; (3) kalimat atau proposisi yg dijadikan dasar penarikan kesimpulan di dl logika), yang diakui kebenarannya yang bertolak dari suatu pernyataan dan akan tiba pada suatu konflik atau kontradiksi (Wikipedia).

Simpelnya, Paradox adalah suatu masalah yang tidak akan berujung atau selesai.

Salah satu Paradox paling tua dan terkenal adalah Liar Paradox.

Contohnya adalah Paradox yang ditemukan oleh anak umur 11 tahun, Veronique Eldridge-Smith. Paradoks yang dikenal paradoks Pinokio itu menanyakan "Apa yang terjadi jika Pinokio berkata, 'Hidungku akan memanjang'?". Kita tahu Pinokio, anaknya Geppetto, hidungnya akan tumbuh memanjang jika ia berbohong. Jika Pinokio berkata "Hidungku akan memanjang" dan ternyata hidungnya tidak memanjang, berarti Pinokio berbohong, dengan demikian hidungnya akan memanjang. Tetapi jika hidungnya memanjang berarti Pinokio berkata jujur, maka hidungnya tidak semestinya memanjang.

Bentuk lain dari Liar paradox (meskipun logikanya tidak sama dengan yang pertama) ialah kalimat "Kalimat ini salah", jadi kalimat itu salah atau benar? Sebut "Kalimat ini salah" sebagai A. Jika A salah, berarti A benar karena mengatakan hal yang sama, kalimat ini salah. Sebaliknya jika A benar, berarti "kalimat ini salah" bernilai benar, dengan kata lain A salah. Jika kita menjawab A tidak benar maupun salah akan memberikan keadaan kontradiksi yang sama saja. Jika kita merubah bentuk kalimat A menjadi "Kalimat ini tidak benar," sebut kalimat B (jelas A=B, berarti tidak ada yang berbeda kan?). Jika kalimat B tidak benar, berarti kalimat B bernilai benar karena menyatakan hal yang sesuai, "Kalimat ini tidak benar". Bingung?

Ada lagi paradox yang lumayan unik, paradoks yang dikenal sebagai "Crocodile dilemma" Seekor buaya menangkap seorang anak dan berjanji pada ayah anak itu untuk membebaskan sang anak jika sang ayah mengetahui apa yang ia (si buaya) akan lakukan. Nah, jika sang ayah berkata "Kau tidak akan mengembalikan anakku," apakah yang akan terjadi?

Paradox dalam Perjalanan Waktu

Perjalanan waktu atau Time Travel akan menimbulkan dampak berupa Paradox. Permasalahan ini menghasilkan paradoks yang dibagi dalam 2 kelas utama.


Pertama, Causal Loop/Ontological Paradox/Bootstrap Paradox/Predestination Paradox, di mana dalam sebuah hubungan sebab-akibat, sebuah kejadian penyebab di masa depan menghasilkan sebuah kejadian akibat di masa lalu.

Misalkan aku sedang mendengarkan sebuah lagu dan aku ingin bertemu penciptanya,tapi aku tidak bisa karna orang itu sudah meninggal, lalu aku kembali ke masa lalu untuk bertemu penciptanya saat aku bicara dengan orang itu aku menyanyikan lagu nya, dia menulis lagu itu untuk dijadikan lagunya karna dia menganggap lagu yang aku nyanyikan itu bagus, lalu siapa yang menciptakan lagu itu, dia tidak akan bisa menciptakan lagu itu kalau aku tak memberi tahu nya dan aku tak akan bisa memberi tahu nya kalau dia tak menciptakan lagu tersebut.

Paradoks semacam ini ditampilkan dalam film seperti Terminator, Interstellar, Predestination, dan Harry Potter 3 (Prisoner of Azkaban).

Selanjutnya adalah Grandfather Paradox, di mana ketika sebuah perjalanan ke masa lalu dilakukan dan pada saat perjalanan itu terjadi sebuah peristiwa yang membuat alasan sang pengelana ke masa lalu menjadi hilang.

Misalkan kamu kembali ke masa lalu untuk membunuh kakek mu, maka ayahmu tak akan penah lahir dan kamu juga tidak akan pernah lahir, jadi siapa yang kembali ke masa lalu untuk membunuh kakekmu?

Misalkan kamu ke masa lalu untuk bertemu ibu mu ketika dia masih remaja,kalian jatuh cinta, menikah dan punya anak.Lalu siapa anak itu? Apakah anak itu adalah dirimu ? Dan Mungkin kah kamu meng"Ayahi" dirimu sendiri.

Paradoks semacam ini ditampilkan dalam film seperti Looper, A Sound of Thunder, danBack to the Future.

2 paradoks inilah yang membuat ilmuwan sekelas Stephen W. Hawking pun tidak percaya dengan kemungkinan adanya mesin waktu, dengan mengatakan, “Kalau memang mesin waktu bisa ada, manakah turis-turis dari masa depan?” (lihat post sebelum ini).

Namun belakangan, banyak ahli fisika seperti Michio Kaku dan Stephen Hawking sendiri membuka kemungkinan mengenai perjalanan ke “masa lalu”. Sebabnya adalah teori “Many-Worlds Interpretation” (MWI) yang dikemukakan oleh fisikawan Hugh Everett. Teori ini sebenarnya sudah dikemukakan oleh Everett sejak tahun 1957, namun dianggap mengada-ada oleh para fisikawan.

Teori MWI mengatakan bahwa untuk setiap pilihan yang terjadi dalam hidup kita di mana ada beberapa hasil yang mungkin terjadi (misalnya, ikut ujian masuk perguruan tinggi), setiap hasil tersebut terjadi namun pada ‘dunia’ yang berbeda atau pada alam semesta paralel (misal, di dunia yang kita tingggali sekarang kita lulus dalam ujian masuk perguruan tinggi, namun di dunia paralel kita gagal mengikuti ujian tersebut). Inilah yang biasa kita sebut Dunia Paralel.

Contoh penggunaan teori MWI dapat kita lihat dalam film Sliding Doors yang dibintangi Gwyneth Paltrow, di mana film tersebut memiliki 2 cerita: satu di mana tokoh yang diperankan Paltrow ketinggalan kereta, tak jadi rujuk dengan pacarnya, dan meninggal, sedangkan cerita satu lagi menunjukkan tokohnya Paltrow berhasil naik kereta dan rujuk dengan pacarnya.

Maka, teori MWI pun juga membuka kemungkinan mengenai perjalanan waktu ke masa lalu: bahwa ketika kita melakukan perjalanan ke masa lalu, sebenarnya “masa lalu” yang kita datangi berada di alam semesta paralel, sehingga kedua jenis paradoks perjalanan waktu tadi dapat dihindari. Misal, ketika kita ‘iseng’ memacari dan menikahi ibu kita di masa lalu, maka masa lalu dan masa kini dari diri kita yang asli tidak akan berubah, karena ”ibu kita” yang kita nikahi saat pergi ke “masa lalu” berasal dari alam semesta paralel, di mana “diri kita” di alam semesta yang paralel itu menjadi tidak ada.





Sumber: Hidden Secret
Reactions:

0 comments:

Post a Comment