Friday, 16 December 2016

Ada Kuota Internet, Maka Aku Ada


Saya adalah seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Malang. Sebagai seorang mahasiswa semester ‘banyak’, saya sebenarnya sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi. Tapi berhubung rasa malas sering datang dan melanda, sering juga saya tidak lanjut untuk mengerjakannya.
Waktu siang yang seharusnya saya pake untuk mengerjakan ‘skripshit’ malah saya gunakan untuk nongkrong bersama teman-teman atau cuma sekedar ngopi dan ngobrol di depan kampus. Bahkan kadang-kadang nongkrong sampai tengah malam. Sehingga waktu untuk mengerjakan skripsi, ya tengah malam. Biasalah, mahasiswa dengan status injury timy (baca: detik-detik akhir) memang akan dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya memanfaatkan sisa-sisa waktu yang masih berstatus sebagai mahasiswa.

Saya kali ini tidak akan menceritakan pengalaman saya saat kuliah ataupun mengerjakan tugas.

Jadi begini. Di suatu malam yang sunyi, sepi dan hening saat saya sedang asik mendengarkan musik sambil tiduran di kamar kos, tiba-tiba ada bunyi suara pesan masuk di handphone saya. Awalnya saya kira dari gebetan atau teman. Bagai punuk merindukan bulan, ternyata pesan itu dari operator. Yang tertulis, “masa kuota anda akan segera berakhir pada tanggal 22 november 2016, untuk memastikan kuota internet tidak mati, harus melakukan pengisian ulang pulsa”. Kira-kira begitu.
Maklumlah, prinsip anak muda zaman sekarang kan “Ada kuota, maka aku ada”. Berarti kalo kuota internet kita sudah habis, kita juga sudah dianggap tidak ada didunianya. Makanya harus terus update.

Sekali waktu teman saya pernah bertanya, “Kamu udah gak main sosmed lagi? Kok jarang update? Akhirnya kan jadi susah dihubungi sehingga bisa memutuskan tali silaturahmi”
Terus kujawab, “Masih kok, tapi memang saya jarang punya kuota internet. Kenapa emang?”
Dia bilang lagi, “Yah, maaf ya. Kirain kamu udah gak main. Makanya BBM-mu ku delcon, twitter dan instagram-mu ku unfoll, line-mu ku block.”

Gimana coba kalau gitu, selain silaturahmi yang akan putus, followers twitter dan instagram kan jadinya berkurang satu hehehe…

Akhirnya dengan bermalas-malasan saya keluar dengan berjalan kaki mencari warung yang menjual pulsa. Setelah berkeliling cukup lama, saya tidak mendapat warung penjual pulsa yang buka. Ya mungkin karena memang sudah larut malam.

5 menit saya berpikir mau beli pulsa dimana karena warung-warung sudah pada tutup. Saya pun memutuskan untuk beli pulsa di Indomart. Terus terang, saya sebenarnya jarang membeli apapun disitu. Karena akan mematikan warung-warung kecil disekitarnya. Hanya karena gerai waralaba 24 jam itu yang cukup besar dan punya lampu yang lebih terang.

Begini-begini saya juga punya rasa sosial yang tinggi. Atau mungkin karena orang tua saya juga pedagang ya? hehehe…

Saya pun sampai di depan indomart yang keliatan sepi. Ketika masuk, saya sudah menduga akan disapa ‘selamat malam’. Tapi dengan rasa sombong yang cukup tinggi, saya mengacuhkan sapaannya. Karena sapaan itu hanya bagian dari strategi marketing, bukan sapaan yang tulus dari hati yang paling dalam. Maaf curhat dikit.

Lanjut, setelah membeli pulsa, saya pun keluar. Seketika itu pula, ternyata sudah ada tukang parkir yang menjaga. Mungkin dikiranya saya bawa motor. Sorry pak tukang parkir, saya sudah tau pergerakanmu.

Setiba di kosan, setelah mendaftar paket internet, tidak ada angin tidak ada hujan bahkan badai, tiba-tiba jiwa Sherlock Holmes yang ada dalam diri saya mulai bangun dan berbicara pada saya. Saya pun termenung dan mencoba untuk mengobrol dengan dirinya. Dia mencoba menceritakan runtutan kejadian “Kehabisan kuota internet”.

Kami mencoba untuk menganalisa kembali.

Kasus pertama. Ketika teman-teman saya menyayangkan adanya orang yang tidak aktif di social media yang mengakibatkan tali silaturahmi menjadi renggang.

Seperti ini, dunia nyata dan dunia maya itu dua hal yang berbeda.  Silaturahmi yang dilakukan di social media itu maya. Jika memang benar-benar ingin ber-silaturahmi, silahkan langsung datang kepada orangnya. Apalagi ingin membahas persoalan penting. Itu tidak cukup hanya dilakukan di social media. Toh, waktu social media belum ada, orang bisa melakukan revolusi dan reformasi.
Itu menandakan bahwa zaman sekarang dunia maya lebih penting dari dunia nyata.

Kasus kedua. Dipaksa untuk konsumtif. Tidak bisa dipungkiri, kecanggihan teknologi telekomunikasi sekarang membuat kita menjadi kecanduan akan internet. Kita akan merasa pusing jika sehari saja internet kita mati. Dan operator pun semakin memanfaatkan itu. Misal, dalam sebulan kita tidak menghabiskan paket internet yang tersedia, maka paket internet itu otomatis hangus atau tidak berlaku. Akhirnya, untuk anak kosan seperti saya harus menyediakan anggaran perbulan untuk membeli paket internet agar tetap hidup.

Sherlock Holmes yang ada dalam diri saya pun coba menghubungkan 2 kasus diatas. Antara teman yang memaksa saya untuk aktif di social media dan SMS operator yang juga memberikan tenggang waktu hidup saya di dunia maya. Katanya, kedua kasus tersebut saling berkaitan satu sama lain. Akhirnya siapa yang diuntungkan? Ya jelas operator. Karena alasan untuk melanjutkan silaturahmi di dunia maya, saya harus membeli kuota internet.

Menurutnya lagi, ada kemungkinan kedua. Teman saya ini adalah agen operator yang saya gunakan. Dengan memaksa saya untuk aktif di dunia maya, dia berhasil membuat barang dagangan bosnya laku.




Reactions:

0 comments:

Post a Comment