Tuesday, 20 December 2016

Time Travel, Dunia Paralel dan Paradox (Part 3)


 Part 3 : Time Travel?

Dari seluruh penjelasan pada post sebelumnya dapat disimpulkan bahwa perjalanan waktu ke masa depan dan masa lalu SECARA TEORITIS dapat dilakukan dengan metode di bawah ini:

Perjalanan waktu ke masa depan:
1. Menaiki pesawat yang mampu bergerak mendekati kecepatan cahaya
2. Menetap di tempat yang medan gravitasinya sangat tinggi misalnya di dekat Black Hole
3. Menggunakan Traversable Worm Hole

Perjalanan waktu ke masa lalu:
1. Menaiki pesawat yang mampu bergerak melebihi kecepatan cahaya
2. Menggunakan Traversable Worm Hole


Pada tahun 1971 para ilmuwan pernah melakukan percobaan bernama Hafele-Keating Experiment dimana mereka menggunakan jam atom yang sangat akurat hingga sepersatumilyar detik pada pesawat yang mengelilingi bumi selama dua kali dan jam atom yang lain berada di bumi. Setelah dibandingkan ternyata ada perbedaan waktu dari kedua jam tersebut yang angkanya sesuai dengan perhitungan Einstein.

Di kehidupan sekarang kita mengenal GPS yang juga menerapkan teori relativitas Einstein dimana jam pada satelit GPS berjalan lebih cepat sepertujuhjuta detik daripada jam di bumi. Teori ini juga sudah diterapkan di program-program NASA. Hal ini menyebabkan jam di ISS (stasiun luar angkasa) berputar lebih lambat, dibanding jam di bumi. Hal ini disebabkan, karena ISS bergerak lebih cepat dan tidak terpengaruh gravitasi. Jadi bukan berarti Teori yang kami sebutkan tadi tidak ada gunanya sama sekali.

Lalu bagaimana dengan praktik untuk menjelajahi waktu? Sayangnya ada beberapa faktor yang masih tidak memungkinkan realisasi hal tersebut.

1. Persamaan E= MC^2 yang sangat terkenal di dunia sains ini dimana E = Energi, M = Massa, dan C = kecepatan cahaya menyatakan bahwa semakin besar energi yang digunakan objek untuk mencapai kecepatan cahaya maka semakin besar pula massa objek tersebut dan sebaliknya jika massa objek semakin besar semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk mencapai kecepatan cahaya. Artinya jumlah energi akan menjadi tak terbatas dimana saat ini masih belum ada sesuatu yang dapat menghasilkan energi tak terbatas untuk menerbangkan pesawat mendekati kecepatan cahaya.

2. White Hole dan Worm Hole masih sebatas teori matematis. Belum ada penemuan nyata. Berbeda dengan Black Hole yang telah ditemukan di beberapa galaksi sejak tahun 1995.

3. Pembuatan Traversable Worm Hole juga masih sebatas teori. Ilmuwan berspekulasi bahwa membutuhkan suatu materi yang disebut dengan Exotic Matter yang juga masih diragukan kebenarannya.

Para ilmuwan juga lebih meyakini melakukan perjalanan waktu ke masa depan akan lebih masuk akal dibanding harus ke masa lalu.

Yang unik, penemu Theory of Everything, Stephen Hawking sempat membuat eksperimen untuk membuktikan apakah manusia bisa kembali ke masa lalu.

Pada tanggal 28 Juni 2009, Stephen Hawking menyiapkan sebuah pesta besar bagi para wisatawan-wisatawan waktu. Namun undangan-undangan pesta tidak dia kirimkan hingga pesta selesai hari itu.

Setelah duduk menunggu cukup lama, hingga hari berakhir dan tanggal berganti, tidak satupun mahluk yang datang ke pestanya. Stephen Hawking mengusulkan fenomena ini adalah bukti eksperimental bahwa mengadakan perjalanan ke masa lalu tidaklah mungkin.

Foto undangan yang dibuat Hawking

Hawking berpendapat, jika seandainya melakukan perjalanan ke masa lalu itu bisa dilakukan, harusnya ada wisatawan waktu yang datang ke acaranya. Karena ia menyebar undangan setelah acara selesai, dan seharusnya para wisatawan yang datang dari masa depan akan mengetahui bahwa Hawking pernah membuat acara.

Karena dengan melakukan perjalanan ke masa lalu akan menghasilkan sejumlah tabrakan atau istilahnya paradox.

Hawking mengasumsikan bahwa ruang-waktu, secara keseluruhan, harus mengikuti aturan sebab dan akibat, dan memutuskan bahwa Worm Hole dari jenis yang akan memungkinkan perjalanan waktu ke masa lalu, tidak mungkin ada. "Hal ini bukan hanya tidak masuk akal namun juga adalah semacam situasi yang memberikan mimpi buruk para kosmolog. Mesin waktu semacam ini akan melanggar sebuah aturan mendasar yang mengatur seluruh alam semesta - yaitu bahwa sebab terjadi sebelum akibat, dan tidak pernah sebaliknya. Jika sebaliknya bisa terjadi, maka tidak akan ada yang dapat menghentikan seluruh alam semesta jatuh kedalam kekacauan.

Bersambung di part 4





Sumber: Hidden Secret
Reactions:

0 comments:

Post a Comment