Tuesday, 9 July 2013

Penetapan 1 Ramadhan

Percakapan tentang kapan penentuan 1 Ramadhan, apakah selasa atau rabu kian seru di media massa. Ada yang memilih selasa, tak jarang juga ada golongan yang memilih rabu. 

Masing-masing mempunyai pendirian dan dalil yang kuat. Hebatnya lagi, keduanya mengklaim mewakili aspirasi ummat dan katanya, ummat gelisah karena tidak ada kepastian tentang itu. Menurut Jusuf Kalla, sebenarnya ummat ini tidak pernah gelisah, apakah bulan puasa itu hari selasa atau hari rabu. Karena apapun keputusan kapan 1 Ramadhan dimulai itu tidak menjadi masalah yang berarti bagi masyarakat. 

Yang menjadi masalah menurut Jusuf Kalla adalah istri-istri di rumah yang telah memasak hidangan sahur untuk hari selasa tapi ternyata keputusan bulan puasa jatuh pada hari rabu atau sebaliknya. Sebenarnya ada 2 (dua) cara dan pendekatan dalam menetapkan 1 Ramadhan yaitu :

bulan,hisab,rukyat,sabit
Bulan




1. Rukyat
Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Rukyat dilakukan setelah matahari terbenam. 

Hilal hanya tampak setelah matahari terbenam (magrib) karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibandingkan dengan cahaya matahari, serta ukurannyasangat tipis. Apabila hilal terlihat,maka pada petang waktu setempat telah memasuki bulan baru hijriyah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai magrib hari berikutnya.

2. Hisab
Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomi untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender hijriyah. Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. 

Posisi matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu shalat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender hijriyah.

Itulah 2 cara atau pendekatan kita untuk menentukan bulan baru dalam kalender hijriyah. Terserah mau pilih yang mana. Tetapi menurut Jusuf Kalla pada tahun 1969 Neil Amstrong bersama pesawat Apollo-nya mendarat di bulan karena teknologinya dan teknologi itu adalah hisab, atau perhitungan. 

Nah, kalau manusia bisa mendarat di bulan karena perhitungan, mengapa hanya untuk melihat bulan saja kita tidakmenggunakan perhitungan juga. Ini jelas-jelas tidak lagi melihat bulan, tetapi sudah tiba di bulan. Dan itu dilakukan dengan perhitungan

 
Reactions:

1 comment: