Showing posts with label tulisan sampah. Show all posts
Showing posts with label tulisan sampah. Show all posts

Sunday, 25 December 2016

Indonesia Men-Telolet-Kan Dunia


Saat saya menulis tulisan ini, seperti biasa, saya sedang asyik menyeruput kopi dan nongkrong bersama teman-teman dibawah langit malam yang mendung di depan kampus.

Jalan riuh diterangi lampu jalan sinar kuning merkuri. Lalu lalang kendaraan mobil menutup celah-celah sempit untuk pengendara motor yang ingin mengeluarkan teknik zig-zag. Tak jarang terdengar makian dan umpatan dengan mata tajam melotot ingin menerkam.

Begitulah balada harian di jalanan.

Ditengah kerasnya hiruk pikuk jalan, sekolompok pemuda yang berdiri di parkiran warung kopi yang saya tempati, berteriak, "Om telolet om!!!" pada bis yang melintas. Sopir bis itu merespon dengan bunyi klakson khasnya. Sontak anak muda yang berteriak tadi ketawa kegirangan. Entah karena kesenangan, gila atau memang sedang mengikuti tren di media sosial sekarang.

Tapi saya pikir ini memang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia, gampang bahagia. Bayangkan saja, hanya dengan mendengar klakson telolet, kita bisa tertawa bahagia dibuatnya. Cukup  menjadi hiburan.

Setelah berakhirnya ketenaran viral mama berdaster yang ketika dandan hidup kita kelar, demam telolet menjadi pemandangan baru yang lebih terkenal. Cukup membuktikan bahwa orang Indonesia bisa dikatakan kreatif dan bisa melihat sisi-sisi guyon dalam kehidupan sehari-hari.

Yap, istilah 'om telolet om' sekarang memang menjadi tranding topik di jagad dunia maya. Berawal dari kebiasaan anak kecil yang senang dengan suara klakson bis yang kemudian menjadi viral di sosial media dan menjadi konsumsi penikmat dunia maya akhir-akhir ini. Setiap saya melihat postingan status seseorang, mesti ada komen 'om telolet om'.

Sampai sekarang, istilah tersebut sudah mendunia dan banyak mendapat perhatian dari publik figur di Indonesia bahkan dunia.

Di Indonesia artis-artis sudah banyak yang mem-parodi-kan om telolet om. Tidak mau ketinggalan, tokoh-tokoh politik juga ikut meramaikan om telolet om. Contohnya saja anies baswedan dan sandiaga uno yang sekaligus cagub dan cawagub jakarta.

Sampai-sampai menteri perhubungan juga berencana untuk membuat kontes klakson telolet.

Di kancah internasional, sekelas dj skrillex sampai membuat remix dengan bunyi telolet. Tidak hanya itu, dengar-dengar demam telolet ini sudah sampai ke telinga pesepak bola cristiano ronaldo sampai presiden amerika terpilih donald trump.

Bisa dilihat bahwa kekuatan dari media sosial memang sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat kita. Bahkan bisa mempengaruhi dunia. Kalau momen seperti ini bisa dimanfaatkan, indonesia akan dengan gampang memperkenalkan budaya-budaya tanah air kepada dunia.

Saya jadi teringat slogan orang jepang, tentang men-jepang-kan dunia. Itu setelah kehancuran jepang yang kalah berperang melawan sekutu pada saat perang dunia ke 2. Kaisar jepang pada saat itu berhasil membangun kembali negaranya  dari krisis dan mampu menyebarkan budaya-budaya jepang ke seluruh dunia.

Kita bisa lihat pada gaya berpakaian anak muda di indonesia yang beberapa mengikuti gaya cosplay atau harajuku-nya jepang. Budaya jepang sudah merambat di indonesia.

Belum lagi ada anime-anime yang menjadi konsumsi masyarakat kita. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa menikmati tontonan film animasi kartun dari jepang tersebut. Dan terus terang, saya juga menikmatinya hehehe...

Dan yang paling mendunia adalah teknologi-teknologi modern dan canggih yang kita pakai di kehidupan sehari-hari sebagian besar merupakan produk dari negeri sakura tersebut. Mulai dari perabotan rumah tangga, teknologi pertanian, hingga mesin-mesin bermotor dunia adalah produk industri jepang.

Nah, demam telolet sudah terbukti bisa menjadi virus yang dapat menjangkit masyarakat dunia. Demam telolet sudah membuat masyarakat dunia bertanya-tanya, "What the meaning of om telolet om?"

Bayangkan saja, jika semisal, tarian tradisional seperti tari bali bisa menjadi viral dan gerakan ditiru oleh orang sedunia. Tidak kalah oleh tarian gangnam style. Betapa bangganya kita menjadi bagian dari bangsa yang punya banyak warisan budaya ini.

Atau semisal tren fashion seperti peci atau batik bisa dipakai oleh artis-artis luar negeri. Bayangkan misalnya justin biebir menggunakan peci saat tour konser dunianya? Kan keren.

Nah, itu tidak mustahil melihat pengguna aktif media sosial masyarakat kita termasuk yang terbanyak didunia. Jika kita ramai-ramai membagikan sehari saja salah satu budaya kita, maka bisa-bisa indonesia setiap hari akan menjadi trending topik dunia.

Kita bisa meng-Indonesia-kan dunia.

Maka, momen telolet ini menjadi awal Indonesia bisa dibicarakan banyak orang didunia. Dan sebagai masyarakat yang cerdas dan pengguna sosial media yang bijak, mari kita memanfaat momen ini untuk kembali memperkenalkan semua yang ada di Indonesia kepada dunia.

Salam telolet untuk kita semua. Indonesia men-telolet-kan dunia.

Sunday, 18 December 2016

Cocoklogi dan Kekalahan Timnas Indonesia



Sudah lama memang terdengar dan menjadi pembicaraan beberapa orang tentang cocoklogi yang merambat di Indonesia. Saya awalnya sangat kurang sepakat dengan ilmu ini. Ilmu yang mencocok-cocokkan antara pernyataan dengan fakta atau fakta satu dengan fakta lainnya. Dan kebanyakan pembuktiannya terjadi karena ketidak sengajaan ataupun kebetulan.

Setelah saya coba browsing dan melihat beberapa artikel mengenai cocoklogi ini, memang didasari oleh teori-teori konspirasi. Contohnya, segala yang berbentuk segitiga atau bentuk mata adalah lambang freemason atau illuminati. Jadi, apakah semua orang yang beratribut  segitiga atau mata satu terindikasi anggota freemason atau illuminati? Tentu tidak kisanak.

Ini menjadi bukti ketidak kritisan kita dalam mengungkapkan kebenaran. Karena memang tidak ilmiah dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Belum lagi sekarang anak-anak muda yang pragmatis sudah banyak yang mulai mempraktekkan ilmu absurd ini mulai mencocok-cocokkan sesuatu dan menarik kesimpulan dari kecocokan yang ada.

Contoh, istilah jomblo sama dengan sendiri, sendiri sama dengan mandiri, mandiri itu nama bank, bank itu banyak duitnya. Kesimpulannya jomblo itu banyak duit. Sungguh pernyataan yang sangat tidak jelas.

Belum lagi sekarang banyak ulama yang doyannya cocoklogi. Mereka senang mecocok-cocokkan ayat-ayat suci dengan temuan fakta ilmiah terbaru. Memang saya bukan ahli fiqh ataupun penafsir Al-Quran. Saya percaya bahwa Al-Quran adalah pedoman hidup dan pandangan hidup. Tapi dengan gampangnya kita mencocokkan semua hal, membuat daya berfikir kritis dan ilmiah kita perlahan memudar.

Saya sepakat dengan penemu Theory of Everything, mbah Stephen Hawking, tentang adanya hukum sebab-akibat. Mbah ini mengasumsikan bahwa ruang-waktu, secara keseluruhan, harus mengikuti aturan sebab dan akibat. Akibat ada karena adanya sebab. Begitu kira-kira.

Tapi saya coba untuk berfikir jernih dan adil sejak dalam pikiran.

Beberapa contoh tadi memang membuktikan bahwa ada ketidak singkronan dalam mencocokan sesuatu. Sehingga saya yang awalnya sangat anti tentang ilmu cocoklogi ini terlalu subjektif dan gampang meyindir orang-orang yang gemar mencocokkan sesuatu. Akhirnya saya membuka diri dengan cocoklogi.

Jika cocoklogi dipandang sebagai ilmu mencocokkan, maka semua ilmu pengetahuan juga sering melakukan cocoklogi, terutama bidang sains. Sains adalah pelaku cocoklogi terbesar sepanjang sejarah. Setiap yang dikatakan sains semuanya cocoklogi.

Ketika sains menawarkan sebuah teori, maka teori sains itu akan dianggap sebagai fakta ilmiah jika ada kecocokan di dalamnya. Contoh kecepatan cahanya mbah Einstein. Dulu kecepatan cahaya hanyalah sebuah teori, sekarang menjadi fakta ilmiah yang menyebut kecepatan cahaya 300.000.000 m/s. Sebab ada kecocokan antara teori dan fakta.

Sains melakukan tindak cocoklogi.

Selain sains, coba kita cari dalam bidang sosial. Karl max seorang panglima perang komunisme pernah berpendapat bahwa konflik yang selama ini terjadi karena adanya pertentangan antara kelas proletar dan kelas borjuis. Kemudian pendapat Marx ini dianggap cocok dengan fakta bahwa ada beberapa kasus di dunia ini tentang konflik antara buruh dan pengusaha.

Saya akhirnya membuka diri karena ilmu sains bahkan ilmu sosial juga mencocok-cocokkan sesuatu. Tidak ada ilmu yang tidak cocoklogi. Mereka asyik mencocokkan antara teori dan fakta. Dengan cocoklogi pulalah kita bisa hidup dan mempunyai peradaban yang maju hingga saat ini.

Sampai pada saya cukup percaya dan sering mengaplikasikan cocoklogi.

Adalah saat tim nasional sepakbola Indonesia berlaga di piala AFF. Saya sependapat dengan kebanyakan orang yang mengatakan nasib timnas Indonesia sama dengan nasib timnas Portugal sampai akhirnya menjadi juara dalam ajang sepak bola.

Di fase grup, timnas indonesia bersama thailand, filipina dan singapura di grup yang sama. Pada laga perdana Indonesia dihajar thailand dengan skor 4-2. Laga perdana yang kurang bagus. Setelah itu pertandingan melawan tuan rumah filipina berakhir dengan skor imbang 2-2. Dalam 2 pertandingan Indonesia baru mengumpulkan 1 poin.

Sampai pada pertandingan terakhir fase grup melawan tim yang cukup kuat, singapura. Timnas Indonesia yang tidak diunggulkan tertinggal satu gol pada babak pertama. Yang membuat peluang untuk lolos ke semifinal semakin berat karena jika kalah ataupun seri, Indonesia tidak akan lolos. Timnas dituntut untuk menang. Babak kedua berjalan sampai pada menit-menit akhir Indonesia bisa mencetak 2 gol dan berbalik unggul serta memenangkan pertandingan.

Indonesia lolos bersama Thailand berhak maju ke semifinal.

Indonesia akan bertemu timnas vietnam yang notabane-nya juara grup sebelah. Lagi-lagi timnas Indonesia tidak diunggulkan melawan vietnam. Berangkat ke semifinal dengan terseok-seok di fase grup.

Semifinal punya sistem home and away. Pertama dikandang Indonesia. Timnas berhasil membalikkan dugaan publik dengan menang 2-1 dilaga pertama semifinal. Kemudian dilaga kedua di kandang Vietnam, Indonesia dengan dramatis menahan imbang 2-2 tuan rumah dan berhak untuk maju ke babak final.

Disitu saya makin percaya dengan cocoklogi. Karena timnas Indonesia punya nasib yang sama dengan timnas Portugal. Terseok-seok dan tidak diunggulkan. Tapi sama-sama maju ke babak final. Portugal menjadi juara dan timnas Indonesia tinggal menunggu waktu.

Final piala AFF juga menganut sistem Home and Away. Indonesia akan bertanding melawan Thailand di final. Pada pertandingan pertama di kandang Indonesia, Indonesia berhasil menaklukkan thailand dengan skor 2-1. Kemenangan itu harus dibayar mahal dengan cideranya Andik Vermansyah.
Semakin cocok dengan nasib portugal yang di final pada menit-menit awal kehilangan Cristiano Ronaldo yang cidera dan akhirnya ditarik keluar. Sepertinya Andik Vermansyah ingin me-Ronaldo-kan dirinya.

Gus Ulil Abshar-Abdalla juga memposting foto dalam twitternya, mengatakan, “Dalam perhitungan santri Padepokan songo buono gasmi berdasarkan hisab dan rukyat. Indonesia punya kans besar untuk juara Piala AFF 2016 mengalahkan thailand. Hal ini disebabkan laga final tahun ini terjadi di bulan rabiul awal bertepatan dengan maulid nabi, dimana pasukan gajah dihancurkan oleh pasukan burung. Itu artinya bahwa thailand dengan gajah putihnya akan diserang burung garuda Indonesia.... Adapun realita diatas lapangan, hanya Allah yang Maha Tahu.” Sangat cocok kembali bung!!!

Tapi bagai lebah yang merindukan bunga. Ekpektasi tidak sama dengan realita. Timnas Indonesia dengan modal kemenangan kandang tidak mampu membawa pulang Piala AFF dari kandang Thailand. Indonesia kalah dengan skor 2-0. Ilmu mencokkan dari awal berhasil hingga sampai ke final dan bersiap mengambil kesimpulan, Indonesia kalah. Cocoklogi timnas portugal dan indonesia tidak terjadi. Sangat menyedihkan timnas Indonesia, tim kebanggan Indonesia kembali gagal merebut juara. Terus terang saya sangat sedih.

Disini, dan mulai saat ini saya akan sangat tidak percaya lagi dengan ilmu mencocokkan sesuatu. Tai dengan cocoklogi, omong kosong dengan cocoklogi, persetan dengan cocoklogi.

Terima kasih.

Friday, 16 December 2016

Ada Kuota Internet, Maka Aku Ada


Saya adalah seorang mahasiswa perguruan tinggi swasta di Malang. Sebagai seorang mahasiswa semester ‘banyak’, saya sebenarnya sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi. Tapi berhubung rasa malas sering datang dan melanda, sering juga saya tidak lanjut untuk mengerjakannya.
Waktu siang yang seharusnya saya pake untuk mengerjakan ‘skripshit’ malah saya gunakan untuk nongkrong bersama teman-teman atau cuma sekedar ngopi dan ngobrol di depan kampus. Bahkan kadang-kadang nongkrong sampai tengah malam. Sehingga waktu untuk mengerjakan skripsi, ya tengah malam. Biasalah, mahasiswa dengan status injury timy (baca: detik-detik akhir) memang akan dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya memanfaatkan sisa-sisa waktu yang masih berstatus sebagai mahasiswa.

Saya kali ini tidak akan menceritakan pengalaman saya saat kuliah ataupun mengerjakan tugas.

Jadi begini. Di suatu malam yang sunyi, sepi dan hening saat saya sedang asik mendengarkan musik sambil tiduran di kamar kos, tiba-tiba ada bunyi suara pesan masuk di handphone saya. Awalnya saya kira dari gebetan atau teman. Bagai punuk merindukan bulan, ternyata pesan itu dari operator. Yang tertulis, “masa kuota anda akan segera berakhir pada tanggal 22 november 2016, untuk memastikan kuota internet tidak mati, harus melakukan pengisian ulang pulsa”. Kira-kira begitu.
Maklumlah, prinsip anak muda zaman sekarang kan “Ada kuota, maka aku ada”. Berarti kalo kuota internet kita sudah habis, kita juga sudah dianggap tidak ada didunianya. Makanya harus terus update.

Sekali waktu teman saya pernah bertanya, “Kamu udah gak main sosmed lagi? Kok jarang update? Akhirnya kan jadi susah dihubungi sehingga bisa memutuskan tali silaturahmi”
Terus kujawab, “Masih kok, tapi memang saya jarang punya kuota internet. Kenapa emang?”
Dia bilang lagi, “Yah, maaf ya. Kirain kamu udah gak main. Makanya BBM-mu ku delcon, twitter dan instagram-mu ku unfoll, line-mu ku block.”

Gimana coba kalau gitu, selain silaturahmi yang akan putus, followers twitter dan instagram kan jadinya berkurang satu hehehe…

Akhirnya dengan bermalas-malasan saya keluar dengan berjalan kaki mencari warung yang menjual pulsa. Setelah berkeliling cukup lama, saya tidak mendapat warung penjual pulsa yang buka. Ya mungkin karena memang sudah larut malam.

5 menit saya berpikir mau beli pulsa dimana karena warung-warung sudah pada tutup. Saya pun memutuskan untuk beli pulsa di Indomart. Terus terang, saya sebenarnya jarang membeli apapun disitu. Karena akan mematikan warung-warung kecil disekitarnya. Hanya karena gerai waralaba 24 jam itu yang cukup besar dan punya lampu yang lebih terang.

Begini-begini saya juga punya rasa sosial yang tinggi. Atau mungkin karena orang tua saya juga pedagang ya? hehehe…

Saya pun sampai di depan indomart yang keliatan sepi. Ketika masuk, saya sudah menduga akan disapa ‘selamat malam’. Tapi dengan rasa sombong yang cukup tinggi, saya mengacuhkan sapaannya. Karena sapaan itu hanya bagian dari strategi marketing, bukan sapaan yang tulus dari hati yang paling dalam. Maaf curhat dikit.

Lanjut, setelah membeli pulsa, saya pun keluar. Seketika itu pula, ternyata sudah ada tukang parkir yang menjaga. Mungkin dikiranya saya bawa motor. Sorry pak tukang parkir, saya sudah tau pergerakanmu.

Setiba di kosan, setelah mendaftar paket internet, tidak ada angin tidak ada hujan bahkan badai, tiba-tiba jiwa Sherlock Holmes yang ada dalam diri saya mulai bangun dan berbicara pada saya. Saya pun termenung dan mencoba untuk mengobrol dengan dirinya. Dia mencoba menceritakan runtutan kejadian “Kehabisan kuota internet”.

Kami mencoba untuk menganalisa kembali.

Kasus pertama. Ketika teman-teman saya menyayangkan adanya orang yang tidak aktif di social media yang mengakibatkan tali silaturahmi menjadi renggang.

Seperti ini, dunia nyata dan dunia maya itu dua hal yang berbeda.  Silaturahmi yang dilakukan di social media itu maya. Jika memang benar-benar ingin ber-silaturahmi, silahkan langsung datang kepada orangnya. Apalagi ingin membahas persoalan penting. Itu tidak cukup hanya dilakukan di social media. Toh, waktu social media belum ada, orang bisa melakukan revolusi dan reformasi.
Itu menandakan bahwa zaman sekarang dunia maya lebih penting dari dunia nyata.

Kasus kedua. Dipaksa untuk konsumtif. Tidak bisa dipungkiri, kecanggihan teknologi telekomunikasi sekarang membuat kita menjadi kecanduan akan internet. Kita akan merasa pusing jika sehari saja internet kita mati. Dan operator pun semakin memanfaatkan itu. Misal, dalam sebulan kita tidak menghabiskan paket internet yang tersedia, maka paket internet itu otomatis hangus atau tidak berlaku. Akhirnya, untuk anak kosan seperti saya harus menyediakan anggaran perbulan untuk membeli paket internet agar tetap hidup.

Sherlock Holmes yang ada dalam diri saya pun coba menghubungkan 2 kasus diatas. Antara teman yang memaksa saya untuk aktif di social media dan SMS operator yang juga memberikan tenggang waktu hidup saya di dunia maya. Katanya, kedua kasus tersebut saling berkaitan satu sama lain. Akhirnya siapa yang diuntungkan? Ya jelas operator. Karena alasan untuk melanjutkan silaturahmi di dunia maya, saya harus membeli kuota internet.

Menurutnya lagi, ada kemungkinan kedua. Teman saya ini adalah agen operator yang saya gunakan. Dengan memaksa saya untuk aktif di dunia maya, dia berhasil membuat barang dagangan bosnya laku.




Friday, 12 August 2016

Pendidikan Kaum Tertindas atau Pendidikan Kaum Menindas


Paulo Freire dalam bukunya, Pendidikan Kaum Tertindas, mengatakan bahwa, metode belajar-mengajar yang baik adalah interaksi antara si pengajar dan si pelajar. Artinya, guru tidak boleh jadi subjek belajar dan murid menjadi objeknya. Meskipun guru dan murid punya tugas yang berbeda, tapi dalam konteks pendidikan, guru dan murid harus sama-sama memposisikan diri sebagai subjek pendidikan. Hal ini disebabkan karena murid yang diajar tidak harus menelan mentah-mentah apa yang disampaikan oleh si pengajar. Ada proses berfikir kritis murid dan bisa mengoreksi guru. Sehingga guru tidak hanya 'ceramah' di depan kelas. Tapi ada interaksi antara guru dan murid sebagai subjek-subjek. 

Soe Hok Gie juga pernah menulis, "Guru bukanlah dewa yang harus terus didengar dan murid bukanlah kerbau". Itu karena, pengalaman semasa sekolah saat seorang guru tidak terima dengan pendapat Soe Hok Gie yang mengkritisi pendapat sang guru. Dan sepulang sekolah ia berencana untuk menghajar guru yang tidak terima kritikan tersebut yang pada akhirnya mengurungkan niat tersebut. 

Berbicara pada masa sekarang, persoalan dunia pendidikan memang sangat kompleks. Kita bisa melihat banyak guru-guru yang sangat keras dalam mendidik murid-muridnya dan juga sebaliknya banyak murid-murid yang tidak santun dalam memperlakukan guru sebagai orang tua disekolah. Dibanyak media hari ini sering memuat berita tentang kekerasan di sekolah. Mulai dari guru di sidoarjo yang mencubit muridnya sehingga dipidanakan oleh orang tua murid tersebut. Kemudian baru-baru ini di Makassar, seorang guru yang habis babak belur dihajar oleh orang tua murid karena keras terhadap anaknya yang tidak mengerjakan PR.

Lantas siapa yang harus disalahkan? Guru kah? Murid kah? Atau Orang tua kah?

Disatu sisi guru bertugas untuk mencetak generasi cerdas dan kadang-kadang harus keras dalam mendidik. Disisi lain murid juga harus kritis terhadap pemikiran dan perilaku guru. Sekarang ada 2 subjek yang sama-sama mempunyai ego. Tak ayal, ini yang kadang memicu terjadinya perselisihan antara guru dan murid. Sehingga orang tua pun harus turun tangan dalam persoalan yang justru sering tidak menyelesaikan masalah. Memang, sanksi fisik merupakan alternatif mendidik yang memperkuat mental anak ketika teguran masih juga tidak berdampak.Dan, besar kemungkinan orang tua yang tidak terima juga akan menyikapi perlakuan guru terhadap anaknya.

Nah, kalau begitu, ada dua arah metode mengajar yang beda. Guru terhadap Murid. Orang tua terhadap anak (murid). Orang tua mendidik anaknya di rumah bisa jadi sangat berbeda dengan metode guru dalam mengajar di sekolah. Anak yang dirumahnya penuh dengan kasih sayang akan kaget ketika metode belajar yang keras didapatnya di sekolah.

Menurut saya, memang guru dan orang tua sama-sama sayang terhadap anak didiknya. Hanya, mereka punya cara berbeda dalam menafsirkan sayang tersebut. Jadi terhadap kasus kekerasan guru, murid dan orang tua itu tidak ada yang bisa kita salahkan. Karena semuanya salah. Guru yang keras dan melewati batas toleransi. Murid yang tidak santun. Dan orang tua murid yang ikut turun tangan membalas perbuatan guru.

Yang menjadi pekerjaan rumah bagi setiap unsur dalam pendidikan adalah saling introspeksi diri. Guru harus mendidik murid dengan keras tanpa harus melewati batas-batas toleransi. Murid harus santun terhadap guru tanpa menghilangkan sikap kritis terhadap pemikiran dan perlakuan guru. Orang tua murid juga harus mampu memahami posisi guru yang dituntut untuk menjadi pengajar keras sekaligus sayang terhadap anaknya. Sehingga suasana kondusif didunia pendidikan akan terjaga.

Murid sebagai generasi penerus juga akan nyaman untuk belajar sekaligus menjadi tahan banting dengan metode belajar yang keras.




Thursday, 23 July 2015

Mari Bersikap Dewasa Dengan Semangat Anak Kecil!




Hari raya idul fitri merupakan waktu yang paling tepat untuk bersilaturahmi bagi ummat muslim yang merayakan kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Setelah melaksanakan sunnah sholat idul fitri sudah menjadi kultur masyarakat menyambangi sanak keluarga, teman, serta kerabat. Saya beserta keluarga pun begitu. Momen sekali setahun itu dimanfaatkan dengan baik untuk menyambung kembali ikatan persaudaraan yang kabur selama setahun karena kesibukan masing-masing dari kita.


Ada cerita, saat menyambangi sanak keluarga, semuanya berkumpul. Kakek, nenek, om, tante, sepupu, dan kemenakan yang masih kecil. Dan sudah menjadi hal yang pasti ketika mucul beberapa pertanyaan-pertanyaan yang menurut saya mengintrik. Seperti, kapan lulus? Kemudian saya menjawab dengan nada yang agak santai, “kalau saya sudah merasa  pantas menjadi sarjana.”


Pertanyaan-pertanyaan seperti itu juga dilontarkan kepada keluarga-keluarga sebaya saya. Tidak terkecuali kemenakan yang masih kecil yang ditanya soal cita-cita mereka. Ada yang menjawab ingin jadi dokter, professor, presiden, dan jawaban-jawaban yang membutuhkan perjalanan panjang hidup mereka. Tapi, seorang anak kecil tidak memikirkan persoalan itu, tentang halangan dan rintangan mereka. Mereka mungkin cuma asal bicara. Sedangkan menurut saya itu adalah optimisme seorang anak kecil. Saya merasa sangat iri. Dengan pertanyaan yang saya jawab tadi seolah saya tidak bisa memantaskan diri. Pun dengan modal hidup saya selama bertahun-tahun. Ini bukan persoalan idealis atau apalah, tapi persoalan realitas, itu yang biasa saya dengar. Menurut pandangan saya justru itu bukan persoalan realitas, tapi persoalan semangat hidup dan optimisme.


Saya juga pernah merasakan menjadi anak kecil. Tugas saya hanya bermain dan bermimpi setinggi bintang. Semua yang saya inginkan pasti saya perjuangkan. Seperti saat menginginkan mainan. Saya tidak punya cukup uang untuk membelinya. Kemudian meminta orangtua untuk dibelikan dan tidak dipenuhi. Terus saya menangis yang kencang. Bagi sebagian orang itu cengeng, tapi itu dulu adalah cara saya untuk mendapatkan sesuatu.


Dan dewasa ini semua mimpi itu terkikis sedikit demi sedikit. Mungkin karena sudah melihat kerasnya rahang orang-orang itu. Ayolah, dimana kau tomy? Dimana jiwa anak kecilmu? Dimana kau taruh mimpi-mimpimu itu?
 
Saya pernah mendengar prinsip hidup captain bajak laut luffy dan mencoba memegang itu. “Jika kamu tidak mengambil resiko, kamu tidak bisa menciptakan masa depan”, katanya. Jadi, hemat saya mari bersikap dewasa dengan semangat anak kecil! He he he

Thursday, 18 December 2014

Mengungkapkan Emosi



Ada banyak cara bagaimana orang-orang mengungkapkan ekspresi dalam dirinya, termasuk emosi. Emosi tidak muncul begitu saja dalam diri yang kemudian membuat kita jadi lupa diri. Semua yang terjadi pasti ada pemicunya sehingga setiap orang meluapkan emosinya dengan cara yang berbeda-beda pula. Tidak terkecuali pada teman-teman saya di Malang. Saudara sesama pencari ilmu otomatis melewati masa-masa dimana kami harus susah bersama dan senang saling berbagi. Luapan emosi seseorang diakibatkan karena adanya pemicu-pemicu atau faktor-faktor yang membuat emosi itu keluar, semisal dimarahi oleh dosen, diputuskan sama pacar, bertengkar sama teman, dan lain sebagainya.

Pernah diadakan suatu kegiatan di salah satu organisasi saya di Malang. Satu teman saya pada saat itu atau sebut saja saudara seperantauan menjabat di posisi strategis organisasi tersebut. Banyak masalah yang menimpanya mulai dari masalah dana, kurang harmonisnya pengurus pada saat itu, jarang komunikasi, dan masih banyak lagi masalah-masalah yang menimpanya saat itu. Posisi saya yang tepat pada saat itu adalah sebagai partner atau tempat dimana dia bisa menceritakan semua masalahnya. Suatu ketika di warung makan saya sempat bercerita kepada dia, bahwa, konflik-konflik atau masalah-masalah yang terjadi di dalam suatu perkumpulan itu wajar. Tetapi yang harus diperhatikan adalah, semakin besar tanggungjawab yang diemban seseorang, pasti semakin banyak masalah yang dihadapi, itulah harga proses pembelajaran. Lantas kemudian saya bertanya kenapa sedari kemarin tidak tampak wajah kekesalan atau emosi yang kau munculkan. Kemudian dia menjawab, saya memang bukan orang yang menampakkan kekesalan saya di muka umum, tetapi kekesalan saya, saya pindahkan ke tempat lain yang lebih aman. Kemana itu? Ke makanan. Untuk memperjelasnya, teman saya itu meluapkan emosinya ke makanan. Sejak saat itu saya tahu, ketika dia sedang marah, untuk menenangkannya harus siapkan makanan hehehe.

Ada juga teman saya yang diberi banyak tugas. Belum urusan kampus yang bergulat dengan tugas, belum selesai itu sudah ada panggilan dari UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), belum lagi kegiatan diluar  kampus. Semua pikiran-pikiran itu berkumpul di satu kepala yang lumayan kecil. Hingga puncak dari segala emosinya itu akhirnya tumpah dengan cara meneteskan air mata. Dengan semua beban yang dia pendam sendiri. Memang ada karekter manusia yang seperti itu, memendam emosinya sendiri. Satu pelajaran yang saya petik dari situ adalah bagaimana kita sebagai makhluk sosial bisa berinteraksi dan berbagi sesama makhluk sosial. Kita bukan manusia individu yang bisa berbuat semua sendiri, sedikit banyaknya pasti membutuhkan pertolongan dari orang lain.

Masih dengan kasus yang sama. Masalah di organisasi, kuliah berantakan, dan bertengkar dengan teman. Saya pernah jumpai teman yang cukup aneh tapi normal. Bagaimana dia bisa mengontrol emosinya yaitu dengan pergi jalan sendirian. Entah itu dengan naik becak ke alun-alun atau naik angkot sampai ke terminal setelah itu balik lagi kerumah. Fenomena yang ada saya lihat setiap hari pada dirinya. Mengekspresikan kekesalan dengan pergi berjalan-jalan sendiri dan tak satu temannya pun yang tahu sampai dia pulang dan menceritakannya.
Dari semua cerita diatas, satu yang menjadi kekaguman saya pada mereka bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak terlepas dari rasa benci, sakit hati, dan emosi. Tapi mereka dapat mengontrolnya dengan baik atau mengalihkan rasa kesal mereka ke tempat yang tidak ada satu pun orang yang merasa dirugikan. Apresiasi yang sangat tinggi pula saya kepada teman-teman saya karena tidak berbuat yang 'tidak-tidak' seperti yang biasa dilakukan anak muda zaman sekarang seperti ikut geng motor, ricuh dijalan, dan bentrok atau tawuran. 

Monday, 8 December 2014

Psikologi Manusia Modern




Karena memang hobi berselancar di dunia maya, saya biasanya menghabiskan waktu seharian di depan laptop. Segelas kopi untuk menambah kehangatan malam di sebuah ruangan sederhana dengan gitar yang menggantung di dinding serta buku-buku yang berserakan di kamar. Belum lama ini, ketika saya sedang online, salah satu teman mem-posting sebuah video tentang psikologi manusia modern, kemudian saya membuka dan menonton video tersebut.


***

Ceritanya begini, salah satu program televisi di Jerman membuat sebuah acara dengan konsep jebakan. Semua kamera sudah siap diposisinya masing-masing. Satu pria dengan perawakan kumal, kotor, berantakan, berjalan di pusat kota. Lalu-lalang orang berjalan sibuk dengan urusannya masing-masing, atau mungkin menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak penting. Kemudian pria yang berpenampilan seperti pengemis tadi berpura-pura pingsan di tengah ramainya orang-orang berjalan. Ia dengan jaget lusuhnya terbaring diatas trotoar cukup lama. Terlihat tidak ada yang mempedulikan pria tersebut. Selang sekitar 15 menit terbaring, lelaki itupun bangun lalu menghadap ke kamera dan mengangkat bau serta melengkungkan bibirnya member tanda, bahwa tidak ada yang memperhatikannya.

Sesi berikutnya, masih dengan pria yang sama. Tapi dengan penampilan yang jauh berbeda dari tampilan pertama tadi. Kali ini dengan mengenakan jas silver dan berdasi menenteng sebuah koper seperti seorang eksekutif muda. Kembali dengan konsep yang sama, pria tersebut berjalan dikerumunan orang. Denga postur yang tegap dan rambut dibelah samping melewati beberapa toko yang ada di sampingnya sampai kemudian ia kembali berpura-pura pingsan. Tidak berselang lama orang-orang yang berbelanja serta pejalan kaki lain menghapiri pria tersebut dengan perasaan khawatir. Salah satu dari mereka bahkan ada yang berinisiatif memanggil ambulance.

***


Ada sebuah kutipan yang mengatakan bahwa “Don’t judge the people by the cover”. Jangan melihat atau menilai seseorang hanya dari luarnya atau penampilannya. Setiap orang di dunia ini hampir setiap hari mengatakan hal tersebut tetapi dalam kenyataannya, tidak sama sekali. Meskipun dari cerita diatas pada sesi yang pertama tidak ada pernyataan langsung bahwa tidak menolong pria kumal tersebut karena penampilannya, tetapi jika dibandingkan dengan sesi yang kedua dengan pria yang sama tetapi dengan penampilan gagah dan berwibawa kemudian dengan cepat ditolong oleh orang sekitar, sudah dapat disimpulkan bahwa kebanyakan masyarakat modern hari ini masih memandang orang dari penampilannya. 

Ini juga menunjukkan bahwa dewasa ini masyarakat dunia masih tampak perbedaan-perbedaan kelas social satu sama lain. Masyarakat yang tingkat ekonominya tinggi berkumpul dengan masyarakat dengan ekonomi tinggi pula. Sementara masyarakat yang tingkat ekonominya rendah, berkumpul di pasar atau di terminal. Tidak heran jika cerita seperti diatas, saat pria yang tampak miskin tidak ada orang yang menolongnya. Yah, begitulah realita hari ini, psikologi masyarakat modern.
Corak kehidupan seperti inilah yang membuat kita sering melupakan aspek-aspek penting dalam hidup bersosial. Masing-masing manusia individualis, sehingga menghiraukan bagaimana seharusnya kita tolong menolong atau bahu-mambahu dalam menyelesaikan sebuah persoalan.