Monday, 27 January 2014

Pers dan Sosial Masyarakat Indonesia


Sesuai dengan Undang-undang pers pasal 3 ayat 1 mengatakan bahwa, Pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Dengan disahkannya UU Pers tersebut berarti pers dalam hal ini sudah menjadi lembaga yang disahkan oleh negara dan bertanggungjawab atas terciptanya masyarakat yang Indonesia yang sejahtera.

Jadi, tujuan  utama kita mngkonsumsi media per sebenarnya adalah untuk mendapat informasi dan pengetahuan yang luas dengan cepat dan aktual. Kita tidak perlu lagi keluar negeri untuk mengetahui bagaimana kabar bagaimana pemilu Amerika yang berjalan disana atau keluar kota untuk melihat keindahan-keindahan alamnya. Cukup dengan mengkonsumsi media kita sudah tahu segalanya.


Media pers, baik itu media visual, media cetak, dan media elektronik sangat mempengaruhi tatanan-tatanan sosial yang ada di masyarakat. Kita bisa melihat fenomena-fenomena sosial yang ada di Indonesia bahwa pers bisa dikatakan adalah obat yang paling ampuh untuk dijadikan sebagai alat doktrinisasi. Seperti contoh, belum lama ini ada satu siaran di salah satu stasiun TV swasta yang menayangkan acara sahur pada bulan puasa. Kemudian untuk menarik traffic atau penonton untuk menyaksikan acara tersebut, maka mereka merekayasa acara tersebut dengan membagi-bagikan uang disetiap episodenya. Nah, setelah mendapat banyak penonton dan menjadikan tayangan tersebut sebagai acara dengan rating tertinggi, mereka kemudian mengubah konsep acara dengan berjoget bersama. Yang kemudian diikuti oleh orang yang menonton acara tersebut. Akhirnya dengan modal para penikmat goyangan dan penonton yang terus menyaksikan acara tersebut semakin besar dan membuat penikmat tayangan TV tersebut semakin luas jangkauannya, mulai dari orang dewasa sampai adikku pun ikut menirukan goyangan yang ada di acara tersebut.

Dengan modal sudah berhasil mempengaruhi banyak masyarakat membuat media pers sudah melenceng jauh dari tujuan utamanya yaitu mendidik rakyat Indonesia dengan berita-berita aktualnya dan sebagai media yang informatif.

Saya kebetulan sudah menonton film "Dibalik Frekuensi", dimana ternyata sudah banyak terjadi kebohongan-kebohongan media yang dinikmati masyarakat Indonesia belakangan ini. Acara-acara di TV di setting sedemikian rupa untuk menarik minat penonton dan bertolak belakang sebagai sumber informasi masyarakat.

Contoh lain yang menunjukkan Pers hari ini tidak lagi Independen atau memberikan informasi sesuai pesanan dan tidak lagi mengatakan kebenaran adalah saat dimana berita seorang bapak tua yang menjadi korban lumpur lapindo di daerah Jawa Timur. Saat itu sang bapak telah kehilangan rumah serta harta benda lainnya yang dimakan lumpur. Bapak ini pun kemudian meminta sang orang-orang atau petinggi-petinggi negara yang bertanggungjawab atas musibah yang dihadapinya untuk memperhatikan masyarakat-masyarakat yang terkena lumpur seperti dirinya. Lain daripada yang lain, bentuk protes bapak ini dengan berjalan kaki dari daerah asalnya, Jawa Timur, ke Jakarta. Semua orang kemudian tergugah hatinya karena melihat perjuangan seseorang untuk didengar aspirasinya oleh pejabat-pejabat negara yang secara langsung bertanggungjawab atas kejadian itu. Tetapi beda pohon semangka dan pohon melon. Setelah membaca beberapa artikel dan sumber referensi terkait aksi seorang bapak yang berjalan dari Jawa Timur ke Jakarta untuk mengadu tentang permasalahan yang dideritanya dan didengar aspirasinya ternyata dibayar sangat murah untuk mengubah statment-nya. Yang awalnya berjalan karena ingin betul-betul menyampaikan pendapatnya ternyata dibayar sangat murah untuk mengubah niat awalnya yang baik. Bagi Pers dan media 

di Indonesia, suatu kebenaran mungkin hanya dibayar murah.

Saya yang semula meng-imani dan meng-amini aksi heroik sang bapak, justru sekarang sangat kontras dengan kepercayaan saya terhadap semua tayangan-tayangan televisi. Berita yang sebenarnya memberikan informasi dan menyampaikan kebenaran justru merekayasa kebenaran menjadi kesalahan. Soe Hok Gie dalam bukunya pernah mengatakan, manusia yang baik adalah manusia yang mengatakan benar sebagai kebenaran dan salah sebagai kesalahan.

Kebebasan pers di Indonesia hari ini dewasa ini memang patut kita banggakan. Tetapi kebanggaan itu jangan membawa kita ke kebebasan yang terlalu bebas. Bebas tanpa batas adalah anarki, anarki sama saja berlawanan dengan tata tertib, padahal masyarakat yang paling sederhana pun memiliki tata tertib tersendirinya masing-masing. Menurut penulis, peran pemerintah saat ini harus membuat regulasi terhadap kepemilikan media di Indonesia. Kebebasan yang terlalu mudah dalam kepemilikan media telah membuat adanya penyakit sosial yaitu homogenisasi berita dan politisasi media. Kepemilikan media pada satu orang telah membuat opini yang berkembang dalam masyarakat mudah sekali dimainkan oleh media yang dimiliki oleh satu orang pemilik modal.

Jangan Selalu Berfikir Negatif
Di sebuah warung kopi dekat kampus, saya bertemu teman kecil yang sudah terpisah sejak SD. Kemudian kami berbincang masalah pers yang kemudian menjadi hobinya sebagai reporter. Dia berbicara panjang lebar tentang pers dan memberikan beberapa contoh-contoh tentang ilmu jurnalistiknya.

Terkadang memang orang yang sudah terbawa suasana akan kebohongan-kebohongsn pers akan kembali sulit mempercayai informasi-informasi dari berbagai media. Seperti contoh diatas, pers seolah-olah hanya menjadi alat dari seseorang atau segelintir orang untuk memperoleh sesuatu dari hasil tontonan masyarakat. Tetapi mungkin tidak semua media sekejam dan sejahanam itu dalam menyampaikan beritanya. Pers tidak melulu menjadikan tayangannya sebagai media penyambung yang kusut untuk Indonesia. Sebagai contoh, kita bisa melihat bencana alam yang terjadi di gunung Sinabung daerah Sumatera. Bencana alam yang memakan beberapa korban jiwa atas terjadinya letusan gunung berapi membuat masyarakat sekitar menjadi kalang kabut. Dimana peran pers disini? Kalau kita analogikan, peranan pers sebenarnya ada 2, yaitu, sebagai fungsional dan sosial. Jika kemudian peran sosial yang diambil, maka para wartawan dan reporter akan menolong korban bencana letusan gunung Sinabung sibisa dan semampunya. Tapi jika mengambil peran fungsionalnya, para pemburu berita ini pasti akan melaporkan bencana tersebut dan mem-publish berita yang mereka dapat. Apa jadinya? Para donatur dari berbagai daerah untuk menolong korban mereka yang membutuhkan bantuan. Bayangkan jika para wartawan dan reporter hanya mengambil peran sosialnya, apa yang mereka bisa lakukan untuk menolong korban. Sama seperti analogi kebakaran. Jika kita melihat sebuah rumah terbakar, apa yang akan kita lakukan? mengeluarkan peran sosial kita dengan menyiram air ke rumah yang terbakar atau berteriak meminta tolong kepada tetangga untuk menyiram rumah yang terbakar tadi. Jelas semua orang akan memilih mem-publish berita dulu baru kemudian mengumpulkan tenaga untuk mangatasi sebuah masalah lalu dikerjakan bersama. Seperti itulah seorang wartawan dan atau reporter dalam menjalankan tugasnya. Jadi, kita jangan terus berpandangan negatif terhadap media dan pers. Tetapi kita juga tidak boleh terlalu mempercayai informasi dari satu sumber. Cari sebanyak-banyaknya sumber referensi untuk menguatkan opini kita.


Jadi, peranan pers dalam menjaga kepentingan negara memang sangat dibutuhkan guna menyeimbangkan kondisi-kondisi yang ada di masyarakat Indonesia.






Tuesday, 7 January 2014

Orang-Orang Sebelum Pagi


Tidak banyak orang yang mengetahui keadaan-keadaan sosial pada saat matahari belum terbit. Dimana saat itu kebanyakan dari kita masih terlelap dalam mimpi indah kita. Saya yang punya kebiasaan susah tidur malam, atau teman-teman biasa memanggil saya manusia 'nokturnal' adalah manusia yang hanya beraktivitas pada malam sampai dini hari, kebetulan saat saya masih terjaga, perut yang hanya berisi angin ini berbunyi nyaring. Saya kemudian keluar untuk mencari makan.

Udara yang sangat dingin terasa begitu menusuk. Disinilah saya menyaksikan fenomena-fenomena sosial masyarakat sekitar pada subuh hari. Pun saya berjalan di atas trotoar. Kemudian melewati terminal. Suasana terminal yang berada dipikiranku sebelumnya adalah sepi dan menyeramkan. Ternyata kontras dengan apa yang saya lihat. Disana sudah menunggu kernek sambil meneriakkan arah tujuan bus. Dengan dibantu temannya mengajak orang yang melintas sambil melambaikan tangan. 

Berjalan agak jauh, saya melihat satu keluarga lengkap dengan kakek neneknya tidur di emperan ruko pinggir jalan. Kondisi dimana sebuah keluarga yang seharusnya pada waktu itu nyenyak tidur di dalam rumah, justru beralaskan tanah di pinggir jalan dengan diiringi nyanyian nyamuk. Berselimutkan hanya sarung dan beratapkan langit gelap. Salah satu keuntungan orang-orang seperti ini adalah bisa tidur dimana saja. Sangat berbeda dengan kita. Nyamuk seekor saja kita sudah mengeluh minta ampun

Saya melihat mereka tidur malam hari. Dan pada sore harinya mereka berjalan untuk mencari sesuap nasi. Mengais rezeki yang kita anggap sampah tapi bagi orang-orang itu adalah emas. Begitulah alur hidup mereka setiap harinya. Seperti kata pepatah anak jalanan, "Hari ini makan, besok berpikir lagi untuk makan."

Ir. Soekarno pernah berpidato dan mengatakan, "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." Itulah Indonesia dewasa ini. Maksud dari melawan bangsa sendiri adalah melawan kemiskinan, pendidikan, keadilan sosial, dan kesejahteraan masyarakat yang sampai sekarang masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Kesenjangan sosial yang tentunya akan sulit dilawan tanpa perjuangan dan rasa saling memiliki antar sesama manusia.

Sangat miris rasanya melihat kondisi keluarga mereka. Mau membantu, saya juga tidak memiliki daya apa-apa. Tinggal bagaimana para pemimpin negara melihat kesenjangan-kesenjangan sosial seperti ini. Bukan hanya melihat, kondisi seperti ini memang layak mendapat perhatian dari bapak-bapak pimpinan. Turun tangan untuk menggapi hal seperti itu.

Bukan malah tidur saat bicara soal rakyat seperti kata idola saya, musisi legenda, Iwan fals, "Wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat." Dan malah lebih tragis lagi. Mereka seperti tidak punya rasa syukur dengan apa yang didapatnya. Saat ini berbagai media gencar-gencarnya memberitakan soal pembangunan gedung wakil rakyat yang baru senilai hampir triliunan rupiah.

Sebenarnya, bukan hanya pemerintah. Tetapi kita semua punya tanggungjawab sebagai masyarakat sosial. Dan sebagai umat beragama kita juga dianjurkan untuk saling tolong menolong sesama umat manusia. Selain Habluminallah, kita juga harus Habluminannas. Entah dengan cara apapun kita menolongnya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Itulah mengapa kita diciptakan berbeda-beda. Karena perbedaan kita dapat ditutupi oleh perbedaan orang lain. Dan itu termasuk salah satu ibadah kita terhadap tuhan.

Dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang selalu dielu-elukan oleh rakyat Indonesia ternyata sampai hari ini belum mencapai angka yang memuaskan. Mungkin yang saya lihat ini hanya merupakan sebagian kecil dari kesenjangan-kesenjangan sosial yang ada di dunia khususnya di Indonesia.

Dibalik keramaian kota siang hari, ternyata ada orang-orang sebelum pagi.



Wednesday, 25 December 2013

Bukit Indah Paralayang

Cara saya menikmati hidup

Jumat malam itu di kota Malang sedang diguyur hujan lebat, saya beserta teman-teman sedang asyik ngopi di Pakde (panggilan akrab penjual kopi). Membicarakan banyak hal mulai dari hal terkecil sampai membicarakan kemajuan bangsa Indonesia. 

Pembicaraan tersebut mulai mengarah kemana-kemana entah mau kemana arah pembicaraannya. Saya dengan 3 temanku memang jika bertemu mempunyai banyak pembahasan untuk dibicarakan. Tetapi malam itu teman yang namanya Aldri mengajak ke paralayang sekaligus menjadi salam perpisahannya, entah untuk yang keberapa kalinya dia bilang ingin pulang.

Dan kemudian 'diimani dan diamini' oleh teman-teman yang lain.


Bersama Aldri (kiri)


Akan sepi rasanya jika jalan-jalan ini hanya kami ber-empat. Untuk itu Aldri yang dikenal mempunyai keahlian di bidang komunikasi dan informasi dengan cepat mengajak teman-teman yang mau ikut. 

Dengan cepat pula, sekitar 8 orang mengkonfirmasi untuk ikut, entah karena keinginan sendiri atau mungkin keahlian sang informan.

Alhasil, sudah 12 orang terkumpul. Mereka adalah Aldri, Adi, Yogi, Jarot, Ipink, Wahyu, Anci, Fina, Syifa, Nirma, Ifa dan saya sendiri. Mereka sebenarnya adalah korban dari perbuatan Aldri. 

Meskipun sudah satu setengah tahun berada di Malang, tetapi belum sekali pun saya menginjakkan kaki di bukit paralayang. Tanpa ada instruksi untuk bersiap, saya dan teman-teman sudah siap untuk berangkat. 

Dengan menggunakan 6 motor kami menyusur kota Batu yang dingin dan sunyi. Jalanan yang sepi membuat laju kendaraan kami hampir mencapai 120 km/jam. Ditemani lampu jalan yang mempunyai warna yang khas. 

Sampai di kota Batu, kami pun kemudian singgah di rumah keluarga teman kami, Yogi. Sangat kebetulan, waktu masih menunjukkan pukul 1 malam, sementara keinginan kami hanya mau melihat matahari terbit.

Banyak kelakuan aneh yang terjadi dirumah keluarganya Yogi. Mulai dari yang tidur sampai yang berbuat aneh. Ada yang asyik ngobrol dan ada yang asyik melamun. Bahkan ada yang sampai teman saya, Aldri, sibuk berfoto ria dengan menggunakan kostum polisi.

Jam dinding sekarang menunjukkan pukul 4.15.

Waktunya untuk melanjutkan perjalanan. Kurang lebih setengah sampai satu jam kita baru sampai puncak paralayang. Dengan tanjakan dan tikungan yang sangat tajam, dibayar dengan dinginnya puncak bersama kabut yang menyelimuti. Dingin sudah pasti sampai kekulit bahkan menembus tulang.

Tanpa menunggu waktu lama, kami kemudian mengambil pose masing-masing untuk berfoto. Ada yang berpose terbang sampai salto jungkir balik diatas bukit paralayang. Jarot sebagai juru foto mengabadikan jejak perjalanan kami. Sambil mengeluarkan bekal yang dibawa dari Malang.
Cara teman saya menikmati hidup

Kabut yang menyelimuti tadi perlahan kemudian menghilang dan menampakkan kota Malang dari atas bukit paralayang. Saya kemudian berdiri di sisi bukit dengan belaian angin dingin melihat lampu-lampu rumah yang masih menyala seperti kunang-kunang beterbangan.

Terasa sangat menyenangkan melihat kota Malang dari atas bukit paralayang dengan tertawa lepas bersama teman-temanku. 

Beginilah cara saya menikmati hidup ini.



Tuesday, 10 December 2013

Omah Munir, Museum HAM Pertama di Indonesia


Munir merupakan aktivis sosial dan hak asasi manusia. Banyak pesan moral yang dapat dipetik dari sosok Munir. Mulai dari bagaimana beliau membela keadilan dan mengatakan suatu kebenaran. Untuk mengingat kembali perjuangan-perjuangan seorang Munir maka keluarga dan kerabat sepakat membuat museum Munir. 

Minggu, 8 Desember 2013 bertempat di Jln Bukit Berbunga No. 2 RT 4 RW 7 Sidomulyo Batu, sejuknya kota Batu menjadi hangat dengan dibukanya “Omah Munir”. Omah Munir merupakan museum HAM pertama di Indonesia. Didirikannya “Omah munir” ini diharapkan menjadi refleksi untuk pemuda-pemuda Indonesia dalam mengingat pikiran-pikiran dan perjuangan-perjuangan Munir. 

Turut hadir pula dalam acara pembukaan tersebut Wakil Walikota Malang, Walikota Batu, Wakil Walikota Batu, wakil dari DPR Malang, wakil dari Komnas HAM, Faisal Basri, Butet Kertanegara, aktivis dan LSM, serta beberapa tokoh nasional dan beberapa akivis mahasiswa lainnya. 

Dalam sambutannya, Butet Kartanegara mengatakan, “Ingatan itu pendek, tapi kebenaran itu akan panjang dan selamanya.” Beliau juga menghimbau kepada rakyat dan khususnya kepada para mahasiswa-mahasiswi sebagai ujung tombak penerus bangsa untuk mengatakan suatu kebenaran meski sekecil apapun”. 

“Saya mengingat seorang Munir itu adalah seorang yang memang memegang teguh prinsipnya, memperjuangakan hak-hak rakyat dan membela keadilan.” Ucap salah satu wakil dari komnas HAM dalam testimoninya. 

Jika kita melihat ke dalam museum, terdapat patung, monumen-monumen, penghargaan yang diraih oleh munir dan pemikiran-pemikiran serta perjuangan-perjuangan munir dalam membela hak asasi manusia semasa hidupnya. 

Diharapkan dengan adanya museum “Omah Munir” ini menjadi refleksi kepada rakyat Indonesia untuk membela keadilan dan mengatakan kebenaran. 

Monday, 25 November 2013

Hanya Doa dan Asa

Tidak ada kata lain selain "terima kasih"
Dua kata yang menunjukkan ekspresi saya saat ini
Saat tidak ada daya untuk berbuat sesuatu
Melihat teman-teman dan saudara-saudara memberikan selamat kepadaku

Saya bukanlah orang yang ber-euforia 
dengan hari istimewa ini
Namun saya juga bukan orang yang tidak tahu terima kasih
Terima kasih atas doa kalian

Semoga saat ini....
Saya saya lebih bisa mengerti arti kedewasaan
Mengerti tujuan hidup
Dan memahami apa yang harus saya lakukan

Bisa hidup sampai sekarang
Juga merupakan hadiah yang sangat spesial
Kado yang tidak bisa diberikan oleh manusia lain
Terima kasih Tuhan...

Banyak orang mengatakan panjang umur
Tapi bagi saya...
Hidupku justru akan makin pendek
dengan bertambahnya usia

Sekali lagi...
Terima kasih Tuhan
Terima kasih Ayah dan Ibuku
Terima kasih teman-teman
Dan terima kasih untuk yang masih mengingatku 



Saturday, 16 November 2013

Perjuangan Mahasiswa Indonesia, Apakah Cukup Sampai Disini?


gerakan,perjuangan,pemuda,mahasiswa,aktivis

Pemuda dan mahasiswa merupakan ujung tombak bagi perubahan bangsa ini. Pergerakan pemuda di Indonesia sangat terlihat saat mengusir para kolonial di masa penjajahan. Peran-peran para pemuda dan mahasiswa ketika beberapa peristiwa penting di Indonesia, terutama saat sang elit sudah bersikap apatis kepada rakyatnya. 

Pada awal sejarah perjuangan pemuda di tahun 1908, kala Boedi Oetomo mendirikan wadah perjuangan yang pertama kali yang memiliki struktur pengorganisasian modern di Jakarta. Wadah ini merupakan refleksi sikap kritis dan keresahan intelektual terlepas dari primordialisme Jawa yang ditampilkannya. Tujuan didirikannya perkumpulan Budi Utomo ini sejatinya adalah propaganda kemerdekaan Indonesia. Kehadiran perkumpulan Budi Utomo pada masa itu merupakan suatu episode sejarah yang menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor terdepannya. 

Kemudian sejarah Sumpah pemuda dicetuskan pada tahun 1928. Pada tahun 1923 itu mahasiswa-mahasiswa yang study di Belanda kembali ke tanah air. Mereka kecewa dengan kekuatan perjuangan-perjuangan di Indonesia. Melihat situasi politik yang dihadapi, mereka membentuk kelompok-kelompok study yang amat berpengaruh, karena keaktifannya dalam diskursus kebangsaan pada waktu itu. Dari kebangkitan kaum terpelajar, mahasiswa, intelektual, dan aktivis pemuda itulah munculnya generasi pemuda Indonesia yang mencetuskan sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Sudah tidak bisa dipungkiri bahwa pergerakan-pergerakan pemuda sangat berpengaruh saat sebelum kemerdekaan dan sesaat sebelum kemerdekaan. Dalam perkembangan berikutnya, dari dinamika pergerakan nasional yang ditandai dengan kehadiran kelompok-kelompok studi dan akibat pengaruh sikap bangsa Belanda yang menjadi liberal, muncul kebutuhan baru untuk menjadi partai politik, terutama dengan tujuan memperoleh basis massa yang luas. Kemudian dibentuklah PNI (Partai Nasional Indonesia). Dari PNI inilah kemudian cikal bakal diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia. Salah satu peran angkatan 1945 yang merupakan generasi kemerdekaan Indonesia. Dalam kasus ini pergerakan pemuda di motori oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Kemudian, dalam masa demokrasi liberal, seiring dengan penerapan sistem kepartaian yang majemuk saat itu, organisasi mahasiswa ekstra kampus kebanyakan merupakan organisasi dibawah partai-partai politik. Misalnya, GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) dan PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Khatolik Republik Indonesia) dengan partai khatolik. GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) berdekatan dengan PNI. CGMI (Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia) cukup dekat dengan PKI. Gemsos (Gerakan Mahasiswa Sosialis Indonesia) dengan partai sosialis. PMII (Pergerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) berafiliasi dengan NU. HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dekat dengan masyumi, dan lain-lain. 

Diantara organisasi mahasiswa pada masa itu, CGMI lebih menonjol setelah PKI tampil sebagai salah satu partai kuat hasil pemilu 1955. Saat setelah itu mahasiswa membentuk KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) pada tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh menteri perguruan tinggi dan ilmu pendidikan. Beberapa organisasi mahasiswa saat itu adalah PMKRI, HMI, PMII, GMKI, SOMAL, Mapancas, dan Ikatan Pers Mahasiswa. Tujuan pendirianya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan.

Pada tahun 1965-1966, para pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan orde baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah angkatan '66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan - gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu kemudian berada pada lingkar kekuasaan orde baru.

Pada tahun 1974 saat rezim orde baru sudah berdiri, gerakan mahasiswa meledak. Sebenarnya para mahasiswa telah melancarkan berbagai kritik dan koreksi terhadap praktek kekuasaan orde baru. Diawali dengan reaksi terhadap kenaikan harga BBM. Aksi protes lainnya yang paling mengemuka disuarakan mahasiswa adalah tuntutan pemberantasan korupsi. Lahirlah kemudian apa yang disebut gerakan "Mahasiswa Menggugat". Program utamanya adalah aksi pengecaman terhadap kenaikan BBM dan korupsi.

Pada oktober 1977, gerakan bersifat nasional namun tertutup dalam kampus. Gerakan mahasiswa tahun 1977-1978 ini tidak hanya berporos di jakarta dan bandung. Namun meluas secara nasional meliputi kampus-kampus di kota Surabaya, Medan, Bogor, Palembang, dan Ujung Pandang. 28 Oktober 1977, 8 ribu mahasiswa menyemut di depan kampus ITB. Mereka berikrar satu suara, "Turunkan Suharto!!!". Besoknya, semua yang berteriak raib ditelan terali besi. Kampus segera berstatus darurat perang. Namun kembali tentram.

Puncaknya terjadi pada tahun 1998. Gerakan mahasiswa pada saat itu menuntut reformasi dan dihapuskannya KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa presiden Suharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini diantaranya. Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II, Tragedi Lampung. Gerakan ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.

Praktis sejak peristiwa 1998-1999 atau yang biasa dikenal dengan era reformasi, berita atau kabar tentang pergerakan mahasiswa nyaris sepi. Mahasiswa disibukkan dengan berbagai kegiatan kampus disamping kuliah sebagai kegiatan rutin, dihiasi dengan aktivitas kerja sosial, KKN (kuliah Kerja Nyata), dies natalis, penyambutan mahasiswa baru, dan wisuda sarjana. Meskipun sering kali ada aksi protes. Tetapi tidak berdampak besar.

Pada era reformasi saat ini justru lebih banyak kebohongan yang terjadi dibanding era-era sebelumnya. Lebih banyak korupsi dari sebelumnya. Dan lebih parah lagi, lebih banyak Omong kosong didalamnya. Pemerintahan era reformasi dengan ideologi demokrasinya. 
Masih banyak yang harus dikerjakan mahasiswa pada saat ini. Terutama mencari kebenaran dan keadilan. Ini bukan masalah eksistensi angkatan, tapi masalah mencari yang mana yang benar dan yang mana yang salah.

Sejarah perkembangan Indonesia sangat dipengaruhi oleh peran pemuda dan mahasiswa  sebagai penerus bangsa. Pertanyaannya sekarang, perjuangan pemuda dan mahasiswa di Indonesia, apakah hanya sampai disitu? Atau cukupkah sampai saat ini? sejatinya hingga mahasiswa dapat mencari kebenaran dan keadilan yang sebenarnya.



Malang, 16 November 2013




Saturday, 9 November 2013

Cerita Sore Hari



Senja sore hari di bawah payung kota Malang mengingatkanku akan sebuah janji-janji yang keluar dari mulut ini. Janji-janji kepada orang yang meliharkan dan merawatku akan sebuah perjuangan dan cita-cita. Mungkin sudah menangis melihatku seperti ini. Aku yang selalu banyak omong, berbasa-basi depannya, atau mungkin membohongi kedua orang itu. 

Senja saat ini menyandarkanku pada dinding batu tempatku beristirahat. Aku menutup mata. Terjaga sejenak dan mengingat kembali omong kosong yang telah ku lakukan. Sejenak aku berpikir untuk pulang ke kampung halaman dan menghilang dari jejak-jejak perantauan ini. Tidak. Itu bukan solusi yang baik untuk menyelesaikan masalah ini. Pulang bukanlah jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah ini. 

Aku kemudian keluar ke dunia yang tak kenal logika. Melihat kiri-kanan, yang membuatku seperti orang tolol. Kulihat kursi taman yang berada di pojokan. Aku duduk sambil menyilangkan kaki dan bersender pada kursi itu. 

Tidak ada aktifitas yang berarti terjadi di hadapanku. Melihat sepasang kekasih bergandengan tangan atau anak kecil yang bermain bersama orang tuanya di taman ini. Setiap orang sepertinya sibuk dengan kesenangan masing-masing dan melupakan urusan yang lain.

Kulihat danau dengan airnya yang tenang bersama dengan angsa-angsa menari diatasnya. Mengingatkanku akan harmonisasi keluarga yang dipenuhi dengan kehangatan. Diselimuti dengan rasa kekeluargaan yang kuat. 

Awal perjalananku, melayang diatas laut yang menyambung Jawa dan Sulawesi, sangat bersemangat mencari ilmu sampai ke seberang pulau. Mencari jatidiri. Dan mencari arti kehidupan. Tapi seiring dengan berjalannya detik jam dan bergantinya hari, semua yang kujalani ini seperti sia-sia. Bukannya tanpa sebab, aku mengingkari sebuah komitmen awalku sebelum ini. Belajar dengan tekun. Tapi sudah menjadi takdir alam seperti ini.

Menyesal. Mungkin itu kata yang paling tepat menggambarkan sketsa yang ada di kepalaku saat ini. Ujian Tengah Semester hari ini aku tidak masuk. Aku sekarang menjadi seolah menjadi anak yang paling tidak berguna. Hanya membuang uang yang diberikannya setiap bulan. Mengantarku terhadap rasa bersalah yang sangat hebat.

Ujian siang hari masih bisa aku layani. Meskipun dengan terseret-seret. Tapi mungkin gaya gravitasi di tempat tidurku sangat kuat sehingga sulit untuk mengangkatku bahkan ke kamar mandi yang berada tepat di samping kamarku.

Kemarin aku sudah mendapat lampu kuning. Peringatan yang menandakan aku masih disayang olehnya. Peringatan yang kapan saja bisa langsung melemparkanku ke kampung halaman. Masih adakah kesempatan yang sudah diberikan olehku terjadi lagi tahun ini??? Hanya mereka yang tahu jawabannya. Orang yang telah bersusah payah mengirimku kesini.

Jika berpikir sejenak, sangat besar besar beban yang dirasakan pemuda ini. Seakan alam menuntutku untuk menjadi manusia yang produktif. Dan dunia yang bekerja keras setiap hari sangat kontras dengan karakterku yang malas. Malas seakan sudah menjadi penyakit dalam diriku. Sempat terbersit di benakku akan melewati lorong waktu dan menjadi anak kecil lagi. Anak yang belum tahu kerasnya dunia. Anak yang belum mempunyai tanggungjawab yang besar. Dan anak yang hanya ingin bermain. 

Bermain sepak bola di lapangan bersama teman-teman masa kecilku. Menggiring dan menggocek bola dengan senangnya sampai membobol gawang lawan. Atau mungkin bermain main layang-layang di padang rumput yang terhampar luas yang tepat berada di belakang rumahku.

Cukup. Berhentilah mengigau. Jangan berpikir untuk menjadi anak-anak lagi. Aku sudah dewasa. Ketika aku berpikir untuk kembali ke masa kanakanku, itu tidak mungkin. Tetapi jika tetap terus memaksa, aku akan menjadi seorang pemuda yang bersifat kekanak-kanakan.

Melihat teman-teman kuliahku yang lain, seolah dikejar oleh bom waktu yang siap meledak kapan saja jika tidak lulus dengan waktu normal. 


Saat melihat teman-temanku berjuang untuk dirinya, aku seperti hanya seekor siput yang berjalan lamban dan hanya bisa melihati mereka semua bekerja. 


Ibuku pernah mengatakan, "Tidak ada kata terlambat untuk belajar". Yang diejawantahkan itu terlambat belajar hanyalah orang-orang yang sudah mati. Ibuku pun saat ini masih belajar. Entah belajar tentang apa. Pertanyaannya sekarang bukan masalah belajarnya, tapi lulus dari kapus. Sampai kapan aku menjadi budak intelektual. Itu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh aku sendiri. Orang yang menjalaninya.


Sayangnya, tidak ada orang yang mau terlalu mengerti dengan keadaanku seperti ini. 


Senja akan segera berlalu. Semoga dilema saat ini menjadikanku manusia yang terus bisa berpikir.



Malang, 9 November 2013 


 

Tuesday, 22 October 2013

How Bullshit Are You?


Sudah sembilan tahun telah bapak presiden SBY memimpin Indonesia. Memimpin negeri dengan ribuan gugusan pulaunya. Memimpin negeri yang kaya ini. Dan menjadi pemimpin untuk generasi-generasi penerus negeri ini. 
Tidak dirasa pula perubahan-perubahan yang dilakukan sang bapak presiden setelah memimpin negeri ini. 

Artinya tinggal satu tahun lagi Pak SBY memimpin Indonesia dan kemudian diganti dengan presiden baru dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda pula. Kita tidak tahu apa yang akan dilakukan atau perubahan apa yang dilakukan presiden selanjutnya untuk Indonesia.

Politik tidak lebih adalah permainan terbesar dalam bisnis omong kosong.

Industri artifisial penuh kosmetik yang pernah ada di dunia. Sebagaimana bisnis omong kosong dijalankan, mereka harus berdiri diatas ribuan omong kosong agar omong kosong tersebut menjadi sebuah sesuatu yang bisa dijual dengan manis, dan dibeli dengan larisnya oleh para pemilih. Kalian boleh saja tidak sependapat. Silahkan. 

Menurut survey, diseluruh dunia, kita bahkan punya kepala negara yang dituduh secara serius oleh media massa telah menggelar pesta seks, mempekerjakan gadis-gadis pekerja seksual, tapi dia tetap memenangi pemilihan umum. 

Kita juga punya kepala pemerintahan yang hidup serumah dengan wanita diluar ikatan pernikahan, bangga menunjukkan ke rakyatnya, mempertontonkan sesuatu yang boleh jadi merupakan skandal besar di negara lain, tapi atas nama demokrasi, dia justru memenangi pemilihan umum di negaranya, dan pasangan wanita diluar nikahnya menjadi ibu negara, wanita paling terhormat di negeri tersebut. Di sebuah negara, ada bahkan pemimpin yang jelas-jelas mendukung kaum homo, lesbian, bahkan mengangkat menteri-menterinya dari kaum homo tersebut, dan mereka tetap memenangi pemilu di negaranya masing-masing. Ajaib. Mereka punya catatan buruk dibanding kita. 

Tetapi mereka tetap bisa menjual bisnis omong kosongnya. Menjadi presiden atau menteri. 

Jadi kalau anda homo atau mempunyai catatan-catatan buruk, dan anda jago sekali menjual omong kosong anda, bisa jadi besok lusa kita akan punya catatan seorang presiden homo pertama di dunia dalam zaman demokrasi modern di sebuah negara, yaitu negara Indonesia. Jadi kenapa tidak? Saya ulangi, kenapa tidak?

Pertanyaannya sekarang adalah HOW BULLSHIT ARE YOU?




Malang, 22 Oktober 2013



Terinspirasi dari novel "negeri diujung tanduk" tere liye

Thursday, 3 October 2013

Makna Tarian 4 Etnis

tarian 4 etnis

 

Sedikit Makna tentang Tarian 4 Etnis

Tarian 4 etnis adalah tari kreasi yang melambangkan kebesaran etnik yang ada di wilayah Sulawesi Selatan.

Sulawesi Selatan mempunyai empat suku besar didalamnya yaitu suku Bugis, suku Makassar, suku Toraja, suku Mandar.
 Keempat etnik tersebut merupakan suku yang telah lama mendiami Sulawesi Selatan dan sudah menjadi corak kekayaan dan keragaman budaya.





Masing-masing suku di daerah ini, dapat di bedakan dari segi bahasa, kostum yang meliputi cara berpakaian dan warna khas baju, sarung serta ciri tariannya. 
Kesatuan etnik inipula yang mengapresiasi para seniman, terutama yang bergerak dibidang seni tari untuk menciptakan tari empat etnis. 





Tari empat etnis ini merupakan penggabungan beberapa tari dari setiap suku, dan dikenal dengan nama tari pa’rimpungang.





Tari 4 etnis memadukan beberapa tarian seperti tari Pakarena dari etnis Makassar, tari Pajoge’ dari etnis Bugis, tari Pa’gellu dari Toraja dan tari Pa’tuddu dari daerah Mandar.