Friday, 12 August 2016

Pendidikan Kaum Tertindas atau Pendidikan Kaum Menindas


Paulo Freire dalam bukunya, Pendidikan Kaum Tertindas, mengatakan bahwa, metode belajar-mengajar yang baik adalah interaksi antara si pengajar dan si pelajar. Artinya, guru tidak boleh jadi subjek belajar dan murid menjadi objeknya. Meskipun guru dan murid punya tugas yang berbeda, tapi dalam konteks pendidikan, guru dan murid harus sama-sama memposisikan diri sebagai subjek pendidikan. Hal ini disebabkan karena murid yang diajar tidak harus menelan mentah-mentah apa yang disampaikan oleh si pengajar. Ada proses berfikir kritis murid dan bisa mengoreksi guru. Sehingga guru tidak hanya 'ceramah' di depan kelas. Tapi ada interaksi antara guru dan murid sebagai subjek-subjek. 

Soe Hok Gie juga pernah menulis, "Guru bukanlah dewa yang harus terus didengar dan murid bukanlah kerbau". Itu karena, pengalaman semasa sekolah saat seorang guru tidak terima dengan pendapat Soe Hok Gie yang mengkritisi pendapat sang guru. Dan sepulang sekolah ia berencana untuk menghajar guru yang tidak terima kritikan tersebut yang pada akhirnya mengurungkan niat tersebut. 

Berbicara pada masa sekarang, persoalan dunia pendidikan memang sangat kompleks. Kita bisa melihat banyak guru-guru yang sangat keras dalam mendidik murid-muridnya dan juga sebaliknya banyak murid-murid yang tidak santun dalam memperlakukan guru sebagai orang tua disekolah. Dibanyak media hari ini sering memuat berita tentang kekerasan di sekolah. Mulai dari guru di sidoarjo yang mencubit muridnya sehingga dipidanakan oleh orang tua murid tersebut. Kemudian baru-baru ini di Makassar, seorang guru yang habis babak belur dihajar oleh orang tua murid karena keras terhadap anaknya yang tidak mengerjakan PR.

Lantas siapa yang harus disalahkan? Guru kah? Murid kah? Atau Orang tua kah?

Disatu sisi guru bertugas untuk mencetak generasi cerdas dan kadang-kadang harus keras dalam mendidik. Disisi lain murid juga harus kritis terhadap pemikiran dan perilaku guru. Sekarang ada 2 subjek yang sama-sama mempunyai ego. Tak ayal, ini yang kadang memicu terjadinya perselisihan antara guru dan murid. Sehingga orang tua pun harus turun tangan dalam persoalan yang justru sering tidak menyelesaikan masalah. Memang, sanksi fisik merupakan alternatif mendidik yang memperkuat mental anak ketika teguran masih juga tidak berdampak.Dan, besar kemungkinan orang tua yang tidak terima juga akan menyikapi perlakuan guru terhadap anaknya.

Nah, kalau begitu, ada dua arah metode mengajar yang beda. Guru terhadap Murid. Orang tua terhadap anak (murid). Orang tua mendidik anaknya di rumah bisa jadi sangat berbeda dengan metode guru dalam mengajar di sekolah. Anak yang dirumahnya penuh dengan kasih sayang akan kaget ketika metode belajar yang keras didapatnya di sekolah.

Menurut saya, memang guru dan orang tua sama-sama sayang terhadap anak didiknya. Hanya, mereka punya cara berbeda dalam menafsirkan sayang tersebut. Jadi terhadap kasus kekerasan guru, murid dan orang tua itu tidak ada yang bisa kita salahkan. Karena semuanya salah. Guru yang keras dan melewati batas toleransi. Murid yang tidak santun. Dan orang tua murid yang ikut turun tangan membalas perbuatan guru.

Yang menjadi pekerjaan rumah bagi setiap unsur dalam pendidikan adalah saling introspeksi diri. Guru harus mendidik murid dengan keras tanpa harus melewati batas-batas toleransi. Murid harus santun terhadap guru tanpa menghilangkan sikap kritis terhadap pemikiran dan perlakuan guru. Orang tua murid juga harus mampu memahami posisi guru yang dituntut untuk menjadi pengajar keras sekaligus sayang terhadap anaknya. Sehingga suasana kondusif didunia pendidikan akan terjaga.

Murid sebagai generasi penerus juga akan nyaman untuk belajar sekaligus menjadi tahan banting dengan metode belajar yang keras.




Reactions:

0 comments:

Post a Comment