Tuesday, 9 August 2016

Organisasi Mahasiswa: Kekeluargaan dan Profesionalisme


Ada banyak organisasi mahasiswa di Indonesia pada umumnya, dan Malang pada khususnya. Sehingga mahasiswa-mahasiswa yang haus akan forum-forum kritis ataupun diskursus-diskursus dapat terwadahi disetiap organisasi yang mempunyai ideologi dan asas yang beraneka ragam. Pelbagai ideologi atau asas itu kemudian yang menjadi pondasi mereka dalam berfikir dan menjalankan organisasi masing-masing. HMI, PMII, IMM, KAMMI, PMKRI adalah beberapa organisasi yang berasaskan keagamaan. GMNI, FMN, LMND adalah beberapa organisasi yang berasaskan pancasila.

Organisasi ibarat sebuah kapal yang berlayar. Mempunyai pemimpin (kapten kapal) dan awak kapal atau orang-orang yang ahli dalam menjalankan setiap elemen dari kapal. Dalam mengarungi lautan yang ganas, pemimpin dituntut untuk pandai membaca mata angin, situasi dan kondisi serta menjadi patron bagi seluruh awak kapal untuk sampai ke tujuan. Kristoforus Kolumbus (1451) adalah seorang penjelajah asal Genoa, Itali, yang menyeberangi Samudera Atlantik dan berhasil menemukan benua Amerika untuk pertama kalinya (meskipun masih banyak pendapat yang menentang hal itu). Perjalanan tersebut didanai oleh Ratu Isabella dari Kastilia Spanyol setelah ratu tersebut menaklukkan Andalusia.

Dalam mengarungi samudera atlantik, Kolumbus, tidak hanya bermodalkan nekat dan keberanian. Perjalanan tersebut penuh analisa dan pertimbangan sampai akhirnya ia percaya Bumi berbentuk bola kecil yang dapat dilalui kapal. Sama halnya memimpin sebuah organisasi, pemimpin tidak hanya harus punya modal nekat dan keberanian. Pemimpin harus memerlukan analisa yang kuat dan punya instrumen-instrumen pendukung dalam menjalankan kapal organisasi, semisal, kompas agar tidak tersesat di lautan dan awak kapal yang tangguh.

Dalam berlayar tentu harus punya visi dan tujuan yang jelas. Sehingga dapat memperhitungakan segala kemungkinan yang akan terjadi di tengah jalan.

Perjalanan untuk sampai ke tujuan tidak selamanya mulus. Kadang-kadang kapal menemui ombak yang ganas sampai badai yang sangat besar yang membuat kapal terombang-ambing dilautan lepas. Bahkan dapat membuat kapal menjadi bocor dan karam dilautan. Pertanyaannya kemudian, bagaimana menambal bagian kapal yang bocor dan menyelamatkan kapal yang tenggelam?
Sebelum berlayar, hal yang paling utama adalah bagaimana kita tahu rule of game-nya. Agar, masing-masing dari awak kapal mengetahui tugas pokok dan fungsinya. Misalkan, petugas mesin harus mengerti, kapan mesin dinyalakan atau dimatikan, kapan mesin dipercepat atau diperlambat dan menjaga kestabilan kapal. Atau semisal nahkoda, ia harus pandai membaca mata angin, garis lintang dan garis bujur agar kapal tidak dibawa ke tujuan yang salah.

Sama halnya dengan organisasi. Disetiap organisasi dikenal yang namanya konstitusi. Aturan main yang dibuat dan dijalankan oleh para anggotanya sebagai landasan untuk berlayar. Seorang anggota harus mengerti tugas dan fungsinya. Serta menjalankan hak dan kewajibannya sebagai anggota yang diatur dalam konstitusi. Begitu pula dengan Ketua Umum, ia juga harus mengerti tugas dan tanggungjawabnya serta menjalankan hak dan kewajibannya sehingga tidak ada disintegrasi disetiap personalia organisasi.

Jika aturan main tersebut dapat dijalankan dengan baik dan benar, maka besar kemungkinan kesalahan-kesalahan yang dapat mencelakai dapat diatasi dengan cepat. Karena, masing-masing personal sudah mengerti kewajiban masing-masing. Apalagi, kecelakaan yang terjadi rata-rata disebabkan karena human error.

Selain mematuhi konstitusi atau aturan main, setiap personal, khususnya pemimpin, harus memahami karakter dari setiap anggotanya. Menurut Prof. M. Jabir (1994), hal itu kemudian digunakan untuk menciptakan suasana yang nyaman sehingga hubungan setiap anggota menjadi harmonis dan memiliki sense of belonging. Dan secara kolektif saling menutupi kekurangan dan ‘bergotong-royong’ melanjutkan perjalanan organisasi sampai tujuan.

Tapi dalam beberapa studi kasus, kekeluargaan kemudian dijadikan sebagai “tameng” agar bisa menghindar dari rule of game yang telah dibuat. Organisasi yang terlalu mengedepankan rasa kekeluargaan sebagai kulturnya akan lebih rawan terjadi kecelakaan organisasi.

Kapal titanic yang diklaim sebagai kapal terbesar dan sangat canggih itu juga ternyata karam karena kelalaian awak kapalnya yang terlambat merubah haluan kapal sebelum akhirnya menabrak gunung es yang menyebabkan lambung kapal bocor dan tenggelam. Kecelakaan itu terjadi karena awak kapal berada pada zona nyaman dan akhirnya melupakan rule of game atau aturan main kapal (organisasi).
Menurut hemat penulis, faktor kekeluargaan dan aturan main tidak bisa dilepaskan dalam menjalankan kapal organisasi. Keduanya harus berjalan beriringan atau bisa dinamakan ‘kekeluargaan konstitusional’. Karena jika hanya mengacu pada konstitusi, para anggota atau awak kapal akan dengan terpaksa, seperti robot, menjalankan tugas dan tanggungjawabnya tanpa ada sense of belonging atau rasa memiliki organisasi.

Begitupun sebaliknya, akan terjadi rawan kecelakaan jika faktor kekeluargaan mendominasi instrumen organisasi sehingga melupakan aturan-aturan main yang berlaku.

Dan sebenarnya kita tidak bisa menyelamatkan kapal yang tenggelam, kita hanya bisa mencegahnya tenggelam dengan mengantisipasi dengan ‘kekeluargaan konstitusional’ tadi. Faktor-faktor lain yang memungkinkan kapal akan tenggelam tetap akan terjadi. Tapi justru itu akan menambah kekuatan kita untuk lebih besar. Karena pelaut yang ulung tidak dilahirkan di laut yang tenang. Pelaut yang ulung justru dilahirkan dari ombak yang besar dan badai yang ganas.


Reactions:

0 comments:

Post a Comment