Monday, 8 December 2014

Psikologi Manusia Modern




Karena memang hobi berselancar di dunia maya, saya biasanya menghabiskan waktu seharian di depan laptop. Segelas kopi untuk menambah kehangatan malam di sebuah ruangan sederhana dengan gitar yang menggantung di dinding serta buku-buku yang berserakan di kamar. Belum lama ini, ketika saya sedang online, salah satu teman mem-posting sebuah video tentang psikologi manusia modern, kemudian saya membuka dan menonton video tersebut.


***

Ceritanya begini, salah satu program televisi di Jerman membuat sebuah acara dengan konsep jebakan. Semua kamera sudah siap diposisinya masing-masing. Satu pria dengan perawakan kumal, kotor, berantakan, berjalan di pusat kota. Lalu-lalang orang berjalan sibuk dengan urusannya masing-masing, atau mungkin menyibukkan diri dengan sesuatu yang tidak penting. Kemudian pria yang berpenampilan seperti pengemis tadi berpura-pura pingsan di tengah ramainya orang-orang berjalan. Ia dengan jaget lusuhnya terbaring diatas trotoar cukup lama. Terlihat tidak ada yang mempedulikan pria tersebut. Selang sekitar 15 menit terbaring, lelaki itupun bangun lalu menghadap ke kamera dan mengangkat bau serta melengkungkan bibirnya member tanda, bahwa tidak ada yang memperhatikannya.

Sesi berikutnya, masih dengan pria yang sama. Tapi dengan penampilan yang jauh berbeda dari tampilan pertama tadi. Kali ini dengan mengenakan jas silver dan berdasi menenteng sebuah koper seperti seorang eksekutif muda. Kembali dengan konsep yang sama, pria tersebut berjalan dikerumunan orang. Denga postur yang tegap dan rambut dibelah samping melewati beberapa toko yang ada di sampingnya sampai kemudian ia kembali berpura-pura pingsan. Tidak berselang lama orang-orang yang berbelanja serta pejalan kaki lain menghapiri pria tersebut dengan perasaan khawatir. Salah satu dari mereka bahkan ada yang berinisiatif memanggil ambulance.

***


Ada sebuah kutipan yang mengatakan bahwa “Don’t judge the people by the cover”. Jangan melihat atau menilai seseorang hanya dari luarnya atau penampilannya. Setiap orang di dunia ini hampir setiap hari mengatakan hal tersebut tetapi dalam kenyataannya, tidak sama sekali. Meskipun dari cerita diatas pada sesi yang pertama tidak ada pernyataan langsung bahwa tidak menolong pria kumal tersebut karena penampilannya, tetapi jika dibandingkan dengan sesi yang kedua dengan pria yang sama tetapi dengan penampilan gagah dan berwibawa kemudian dengan cepat ditolong oleh orang sekitar, sudah dapat disimpulkan bahwa kebanyakan masyarakat modern hari ini masih memandang orang dari penampilannya. 

Ini juga menunjukkan bahwa dewasa ini masyarakat dunia masih tampak perbedaan-perbedaan kelas social satu sama lain. Masyarakat yang tingkat ekonominya tinggi berkumpul dengan masyarakat dengan ekonomi tinggi pula. Sementara masyarakat yang tingkat ekonominya rendah, berkumpul di pasar atau di terminal. Tidak heran jika cerita seperti diatas, saat pria yang tampak miskin tidak ada orang yang menolongnya. Yah, begitulah realita hari ini, psikologi masyarakat modern.
Corak kehidupan seperti inilah yang membuat kita sering melupakan aspek-aspek penting dalam hidup bersosial. Masing-masing manusia individualis, sehingga menghiraukan bagaimana seharusnya kita tolong menolong atau bahu-mambahu dalam menyelesaikan sebuah persoalan.
Reactions:

0 comments:

Post a Comment