Tuesday, 7 January 2014

Orang-Orang Sebelum Pagi


Tidak banyak orang yang mengetahui keadaan-keadaan sosial pada saat matahari belum terbit. Dimana saat itu kebanyakan dari kita masih terlelap dalam mimpi indah kita. Saya yang punya kebiasaan susah tidur malam, atau teman-teman biasa memanggil saya manusia 'nokturnal' adalah manusia yang hanya beraktivitas pada malam sampai dini hari, kebetulan saat saya masih terjaga, perut yang hanya berisi angin ini berbunyi nyaring. Saya kemudian keluar untuk mencari makan.

Udara yang sangat dingin terasa begitu menusuk. Disinilah saya menyaksikan fenomena-fenomena sosial masyarakat sekitar pada subuh hari. Pun saya berjalan di atas trotoar. Kemudian melewati terminal. Suasana terminal yang berada dipikiranku sebelumnya adalah sepi dan menyeramkan. Ternyata kontras dengan apa yang saya lihat. Disana sudah menunggu kernek sambil meneriakkan arah tujuan bus. Dengan dibantu temannya mengajak orang yang melintas sambil melambaikan tangan. 

Berjalan agak jauh, saya melihat satu keluarga lengkap dengan kakek neneknya tidur di emperan ruko pinggir jalan. Kondisi dimana sebuah keluarga yang seharusnya pada waktu itu nyenyak tidur di dalam rumah, justru beralaskan tanah di pinggir jalan dengan diiringi nyanyian nyamuk. Berselimutkan hanya sarung dan beratapkan langit gelap. Salah satu keuntungan orang-orang seperti ini adalah bisa tidur dimana saja. Sangat berbeda dengan kita. Nyamuk seekor saja kita sudah mengeluh minta ampun

Saya melihat mereka tidur malam hari. Dan pada sore harinya mereka berjalan untuk mencari sesuap nasi. Mengais rezeki yang kita anggap sampah tapi bagi orang-orang itu adalah emas. Begitulah alur hidup mereka setiap harinya. Seperti kata pepatah anak jalanan, "Hari ini makan, besok berpikir lagi untuk makan."

Ir. Soekarno pernah berpidato dan mengatakan, "Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." Itulah Indonesia dewasa ini. Maksud dari melawan bangsa sendiri adalah melawan kemiskinan, pendidikan, keadilan sosial, dan kesejahteraan masyarakat yang sampai sekarang masih menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua. Kesenjangan sosial yang tentunya akan sulit dilawan tanpa perjuangan dan rasa saling memiliki antar sesama manusia.

Sangat miris rasanya melihat kondisi keluarga mereka. Mau membantu, saya juga tidak memiliki daya apa-apa. Tinggal bagaimana para pemimpin negara melihat kesenjangan-kesenjangan sosial seperti ini. Bukan hanya melihat, kondisi seperti ini memang layak mendapat perhatian dari bapak-bapak pimpinan. Turun tangan untuk menggapi hal seperti itu.

Bukan malah tidur saat bicara soal rakyat seperti kata idola saya, musisi legenda, Iwan fals, "Wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat." Dan malah lebih tragis lagi. Mereka seperti tidak punya rasa syukur dengan apa yang didapatnya. Saat ini berbagai media gencar-gencarnya memberitakan soal pembangunan gedung wakil rakyat yang baru senilai hampir triliunan rupiah.

Sebenarnya, bukan hanya pemerintah. Tetapi kita semua punya tanggungjawab sebagai masyarakat sosial. Dan sebagai umat beragama kita juga dianjurkan untuk saling tolong menolong sesama umat manusia. Selain Habluminallah, kita juga harus Habluminannas. Entah dengan cara apapun kita menolongnya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Itulah mengapa kita diciptakan berbeda-beda. Karena perbedaan kita dapat ditutupi oleh perbedaan orang lain. Dan itu termasuk salah satu ibadah kita terhadap tuhan.

Dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang selalu dielu-elukan oleh rakyat Indonesia ternyata sampai hari ini belum mencapai angka yang memuaskan. Mungkin yang saya lihat ini hanya merupakan sebagian kecil dari kesenjangan-kesenjangan sosial yang ada di dunia khususnya di Indonesia.

Dibalik keramaian kota siang hari, ternyata ada orang-orang sebelum pagi.



Reactions:

0 comments:

Post a Comment